Awal Oktober 2015, The Martian Unggul di Box Office

0
352

LOS ANGELES, test.test.bisniswisata.co.id: The Martian, film bertema astronot Mars menjadi yang terunggul di sepanjang akhir pekan awal Oktober 2015, dalam kancah box office. Bahkan, angka yang diraih mencapai USD 55 juta (sekitar Rp 796,5 miliar) di 3.831 bioskop.

Dilansir dari Ace Showbiz, Senin (5/10/2015), film yang dibintangi Matt Damon itu nyaris mengalahkan Gravity untuk bisa menjadi film terbesar di pembukaan Oktober sepanjang waktu.

The Martian kini menjadi film terbesar kedua dalam pemutaran perdana di bulan Oktober sepanjang masa. Masih ada kesempatan melebihinya pada hasil akhir. Pendapatan Gravity yang rilis 2013 itu, telah meraih angka USD 55,8 juta (Rp 807,6 miliar).

Berbagai adegan mencekam sekaligus sisi berbahaya Planet Mars ditampilkan dalam trailer The Martian. “Sains adalah jantung dari ‘The Martian’ dan disajikan dengan cara yang sangat mudah,” ucap kepala distribusi Fox, Chris Aronson. “Film ini memiliki potensi untuk membuat orang-orang bersemangat mengenai program ruang angkasa kita lagi.”

Hotel Transylvania 2 yang menjadi jawara pekan lalu, kini turun menjad runner-up. Sementara itu, Sicario yang baru saja tayang menduduki tempat ketiga, disusul dengan The Intern dan Maze Runner: The Scorch Trials.

The Martian didasarkan dari novel laris karya Andy Weir dengan kisahnya tentang seorang pria tunggal yang harus mencari cara untuk bertahan hidup lama di Mars agar bisa kembali ke Bumi.

Film ini juga dibintangi Jessica Chastain, Chiwetel Ejiofor, dan Kristen Wiig. The Martian disutradarai oleh Ridley Scott dan naskahnya ditulis oleh Drew Goddard. Ridley Scott juga memproduksi filmnya bersama Simon Kinberg dan Aditya Sood.

Film The Martian berkarakter Scifi, bercerita tentang kehidupan masa depan, saat sebuah misi yang dilakukan oleh badan antariksa AS ke planet lain. Film The Martian disadur dari novel best selling. Film ini adalah gagasan 20 Century FOx Pictures dan Scott Free.

Satelit NASA AS menangkap sinyal adanya badai besar diwilayah misi luar angkasa di planet Mars. Badai tersebut mendatangi pesawat antariksa, dengan tim yang masih berada dipermukaan. Sehingga misi yang sudah disiapkan dengan matang dan sedang dalam proses pengerajan, menjadi harus dibatalkan. Misi mereka seharusnya adalah mencoba menciptakan kehidupan baru di planet Mars, dengan membawa begitu banyak peralatan lengkap, termasuk perangkat bertahan hidup yang sudah terpasang di permukaan gurun pasir berbatu yang keras di planet Mars.

Selama evakuasi awak, badai terlihat semakin tidak bersahabat, dianggap bahwa tidak mungkin menunggu terlalu lama untuk pesawat cadangan membatalkan misi dan kembali ke pangkalan di bumi.

Saat itu Mark Watney (Matt Damon) merupakan salah satu kru yang ikut dalam tim, terjebak badai dan terpisah dari tim yang sama-sama sedang diburu oleh ancaman badai untuk segera kembali ke pesawat dan membatalkan misi, dan mereka berasumsi bahwa Mark telah tewas karena setelah beberapa kali melakukan kontak, Mark tidak menjawab, dan pesawat segera meninggalkan permukaan Mars, dan Mark tertinggal disana.

Dibutuhkan waktu sekitar 4 tahun untuk mencapai planet Mars yang berjarak lebih dari 140 juta mil atau sekitar 200 juta kilometer, dan Mark Watney berada dalam situasi guncangan jiwa akibat kesendiriannya yang hanya akan mampu bertahan hingga 1 bulan ke depan. Mark sendirian berada di sebuah planet yang demikian besar.

Semua kemampuan dan peralatan yang tersisa di kapal induk dicobanya untuk melakukan perbaikan, dia harus mempertahankan diri, termasuk terus melakukan kontak dengan dunia luar, untuk mendapatkan sinyal barangkali dapat terkirim ke awak pesawat tim sebelumnya atau ke kantor pusat NASA.

Bahkan, di planet yang tak berpenghuni itu, Mark telah mencoba segala usaha untuk tetap hidup, termasuk menanam tanaman di dalam ruang laboratorium yang memang seharusnya disiapkan untuk misi mereka, digunakannya untuk bekal bertahan.

Tidak mudah hidup sendiri dalam sebuah tempat seperti itu, tempat tanpa gravitasi, tanpa oksigen, tak ada makanan dan air. Hingga Mark hampir gila akibat tekanan keadaan yang menimpa dirinya. Banyak kegagalan ditemuinya selama mencoba menghubungkan peralatan yang ada ke kontak di bumi. Hingga suatu ketika setelah waktu yang sudah sangat lama, pesannya diterima di stasiun NASA. Disaat Mark bahkan sudah mulai bisa mengatasi kondisi yang baginya sudah mulai ‘terbiasa’.

Sebelumnya pihak jurubicara NASA bahkan enggan menjelaskan apakah ada kemungkinan Mark masih hidup disana atau tidak, tetapi lebih mengarah pada anggapan kalau Mark sudah tidak ada. Namun pesan yang muncul dilayar maskapai ruang angkasa itu mengubah segalanya. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY