ASEAN Open Sky Sulit Diimplementasikan

0
614

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Perserikatan negara yang tergabung dalam Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) dianggap masih belum siap untuk mengimplementasikan kebijakan langit terbuka ASEAN (Asean Open Sky/AOS) akhir tahun ini. Pasalnya, hingga saat ini belum terbentuk badan regional yang bertugas melakukan pengawasan implementasi kebijakan tersebut.

Pengamat penerbangan juga Chairman CSE Aviation Chappy Hakim mengungkapkan, saat ini ASEAN berbentuk kesekretariatan dan belum menerapkan konsep union. Karena itu, sejumlah negara di wilayah ASEAN pun belum mengacu pada kumpulan aturan dasar yang mengikat.Karenanya, jika mengimplementasikan kebijakan AOS tahun ini tidaklah efisien. Diperkirakan, AOS bisa berjalan beberapa tahun ke depan.

“Kalau di ASEAN kita tidak bisa mengeluarkan aturan yang berlaku semuanya. Maksudnya, tidak bisa berlaku multilateral langsung, harus bilateral terlebih dahulu. Misalnya,kita ada aturan pembelian tiket. Jadi, nanti sama Singapura, atau dengan Malaysia ya Indonesia harus bikin,” kata Chappy, seperti dilansir laman sinarharapan.co, Senin (6/4/2015).

Dilanjutkan, agar ASEAN mencontoh Eropean Union (EU) yang sudah memiliki aturan baku bagi negara-negara yang menjadi anggotanya. Karena itu, EU dengan mudah menerapkan European Single Sky. Ia mengatakan, ketika beberapa negara anggota EU menyepakati kebijakan tertentu, maka dengan cepat kebijakan tersebut dapat diimplementasikan.

“Kalau Uni Eropa itu, ketika mengeluarkan sebuah aturan, ya berlaku untuk semua (anggota). ASEAN perlu belajar dari pengalaman Uni Eropa. Aturan itu handicap, jadi kita harus bikin dulu,” tutur Chappy.

Selain itu, lanjutnya, dalam mengimplementasikan AOS 2015, ASEAN terlebih dahulu harus meningkatkan standar regional dan sistem audit keselamatan penerbangan regional. Langkah tersebut ditempuh untuk menjamin keselamatan dan kepatuhan atas keamanan dari setiap negara ASEAN,termasuk Indonesia. “Ini akan memakan waktu beberapa tahun lagi untuk mencapai AOS. Perkembangan progresifdan pertumbuhan sektor lain pun akan memfasilitasi pelaksanaan AOS,” tutur dia.

Dari sudut pandang domestik, Ia menambahkan, Indonesia masih perlu membenahi sejumlah sektor untuk menerapkan AOS 2015,salah satu di antaranya adalah sumber daya manusia (SDM). “Kita masih membutuhkan sekitar 800 pilot setiap tahunnya, dimana pasokan sekolah saat ini baru mampu menyediakan sekitar 400-500 pilot pertahun. Inilah yang memicu penggunaan jasa penerbang asing,” katanya menandaskan. ****

LEAVE A REPLY