“Aruna dan Lidahnya” Novel Terbaru Laksmi Pamuntjak

0
2287
Laksmi Pamuntjak dengan Novelnya "Aruna dan Lidahnya"

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: “Aruna Rai, 35 tahun, belum menikah. Pekerjaan Epidemiologist (Ahli Wabah) Spesialisasi; Flu Unggas, Obsesi; Makanan.

Bono, 30 tahun, terlalu sibuk untuk menikah. Pekerjaan Chef. Spesialisasi.: Npuvelle Cuisine.Obsesi: Makanan.

Nadezhda Azhari, 33 tahun, emoh menikah. Pekerjaan: Penulis. Spesialisasi: Perjalanan dan Makanan. Obsesi: Makanan.

Ketika Aruna ditugasi menyelidiki kasus flu unggas yang terjadi secara serentak di delapan kota seputar Indonesia, ia memakai kesempatan itu untuk mencicipi kekayaan kuliner local seputar Indonesia, ia memakai kesempatan itu untuk mencicipi kekayaan kuliner local bersama kedua karibnya.

Dalam perjalanan mereka, makanan, politik, agama, sejarah local, dan realita social tak hanya bertautan dengan korupsi, kolusi, konspirasi, dan misiinformasi seputar politik keseharian masyarakat, namun juga dengan cinta, pertemanan, dan kisah-kisah mengharukan yang mempersatukan sekaligus merayakan perbedaan antar manusia.”

Demikian sinopsis dari buku dengan judul “Aruna dan Lidahnya” karya Laksmi Pamuntjak. Novel yang menceritakan perjalanan, persahabatan, kuliner, dan isu flu unggas ini memiliki pesan bahwa makanan sebagai pemersatu.

“Dengan 13.000 pulau, Indonesia adalah sebuah gagasan besar. Bagaimana mempersatukan itu? Ya dengan makaanan. Kulliner yang saya angkat di sini berasal dari Pamekasan, Bangkalan, Medan, Palembang, Banda aceh dan lain-lain,” ujar Laksmi Pamuntjak pada acara media gathering di Jakarta, Rabu (5/11/14).

Kepada Bisniswisata.co.id Laksmi mengatakan, “Proses pembuatan novel ini selama 1,5 tahun, dan ini menurut saya lebih singkat dibandingkan dengan novel Amba yang memakan waktu 10 tahun”.

“Dari Madura ada sate lalat dengan daging seukuran lalat, ada bebek sinjai yang terenak di dunia. Dari Banyuwangi ada rujak soto. Fungsi makanan dalam novel ini, makanan pada dasarya adalah pemersatu dan jembatan saat berkomunikasi,” ungkapnya.

Kalau ada yang menyebut novelnya sebagai sastra kuliner, menurut Laksmi baginya adalah sastra yang menjadikan kuliner sebagai pembukanya.

“Kebetulan saya suka pergi makan. Kalau saya review makanan hanya ditulis biasa, gak aneh. Nah, ini saya membicarakan sesuatu dan makanan dalam konteks nilai di sebuah novel. Saya juga sudah cape bikin panduan makanan,” ungkapnya.

Laksmi menambahkan, “Saya menuliskannya lengkap dengan rasa, aroma, dan menunya tapi dengan catatan tidak menuliskan restoran dan merek kuliner itu apa. Tapi saya rasa kalau dituliskan secara rinci, pastinya para pembaca sudah tahu itu”. (evi)

LEAVE A REPLY