Art-Tivities Now, Seniman Lintas Generasi Unjuk Pamer di BSD

0
271

SERPONG TANGERANG, bisniswisata.co.id: Sebanyak 73 seniman dari beragam generasi berpartisipasi dalam pameran Art-Tivities Now, di Breeze Space Art, Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten, mulai Jumat (17/02/2017) hingga 5 Maret 2017. Hasilnya pameran ini tak ubahnya katalog karya seni rupa di Indonesia kini. Mau seniman dari generasi mana dan gayanya seperti apa tersedia di pameran ini.

Heri Dono, Jeihan Sukmantoro, Nasirun, Putu Sutawijaya, Gatot Indrajati, Lenny Ratnasari Weichert, dan Edi Sunaryo adalah sederet nama-nama yang ikut serta dalam pameran yang dikuratori Kuss Indarto. Nama-nama seniman tersebut tentu sudah familiar di telinga para pencinta seni di Tanah Air.

Kendati letaknya di luar Jakarta, pameran ini layak disambangi karena sejumah lukisan beragam aliran, tema, dan konsep terpaku di ruang pameran. Sepertinya keragaman dan membangkitkan gairah berkesenian menjadi nafas dalam pameran yang digelar ArtSerpong Gallery ini.

Di dalam ruang pameran seluas 853 m2 , penikmat seni bisa melihat karya Heri Dono bertajuk Joko Tarub Mandi Di Danau, Diserang 6 Teroris, Dilindungi 7 Bidadari (acrylic, canvas 125 x 125 cm, 2017). Dalam karyanya tersebut, seperti biasa Heri melukis karakter-karakter khasnya yakni figur-figur manusia berwajah tokoh pewayangan.

Lewat karyanya itu, Heri menampilkan pesan kontekstual tentang ancaman terorisme dan radikalisme yang tengah mengintai bangsa Indonesia kini. Di sebelah lukisan karya Heri, pecinta seni disuguhi lukisan berjudul Tari Bedoyo Sebar Sekar (acrylic, canvas, 140 x 180 cm, 2017) karya Jeihan Sukmantoro. Lukisan tersebut tampil dengan ciri khas sang seniman yaitu mata hitam. Selain mata hitam, nuansa mistis selalu menjadi sajian lain dalam karya-karya Jeihan termasuk dalam Tari Bedoyo Sebar Sekar.

Masih di area yang sama, dipajang lukisan karya Nasirun, Untitled (mix media, canvas, 16 x 21 cm, 2016). Ada lima panel lukisan dalam karya Nasirun ini. Adapun figur dalam lukisan tersebut beragam seperti wajah dan tubuh. Melihat karya tersebut, kita seolah membayangkan Nasirun sedang mencoret-coret ide di visual diary-nya sebelum mengeksekusi sebuah karya.

Kemudian tak berjauhan dengan karya Nasirun, tampil lukisan karya Made Djirna, Diantara Wajah Wajah (mix media, canvas, 140 x 200 cm, 2017). Lukisan ini memperlihatkan figur-figur wajah dengan ragam ekspresi. Wajah-wajah tersebut mirip dengan topeng-topeng khas tradisional Bali. Sesuai judulnya, di antara wajah-wajah dalam lukisan itu terselip figur manusia sedang duduk. Sepertinya, sosok itu adalah Made Djirna sendiri.

Di ruang lainnya, pecinta seni dapat menyaksikan lukisan karya Gatot Indrajati, Mother’s Day (acrylic, canvas, 200 x 150 cm, 2017). Lukisan itu bercerita tentang keriuhan di sebuah dapur yang terlihat berantakan oleh ulah sejumlah anak-anak kecil. Sedangkan ibunya sibuk mempercantik diri. Lukisan ini seolah menyoroti semakin kurangnya perhatian ibu terhadap anak-anaknya. Gatot sendiri merupakan pemenang kompetisi seni lukis UOB tingkat Asia Tenggara.

Bukan hanya lukisan, pameran ini juga menampilkan karya-karya instalasi dan patung. Salah satunya karya Lenny Ratnasari Weichert, Proud of Diversity (fiberglass, fabric, 300 x 170 x 80 cm, 2017). Lenny yang kerap menampilkan suara-suara perempuan dalam karyanya menampilkan patung manusia. Namun tidak diketahui apakah patung tersebut perempuan atau laki-laki. Sekilas patung itu layaknya lelaki karena bentuk tubuhnya kekar. Tetapi helai kain yang menyelimuti patung itu, menyimbolkan patung itu adalah perempuan.

Selain Lenny, seniman perempuan lain yang ikut serta dalam pameran ini adalah Manuela Wijayanti. Ela – demikian biasa disapa — menampilkan lukisan bergambar dedaunan dan bunga-bunga. “Saya senang dengan tumbuh-tumbuhan sehingga saya tuangkan pada karya lukisan,” ppar Lenny seperti dilansir laman Bisnis.com. (*/BIO)

LEAVE A REPLY