Arman Girana Ingin Jadikan Pakuan Stable daya tarik wisata berkuda di Lembang, Jawa Barat

0
1240
Elle Vie usai menunggang Rosemary di Pakuan Stable, kampung Buni Asih, desa Langensari, kecamatan Lembang, Jawa Barat. Pakuan Stable bersiap menjadi daya tarik wisata baru di Jabar. ( foto; Arman Girana)

BANDUNG,test.test.bisniswisata.co.id: Arman Girana sejak kecil sudah punya perhatian khusus dengan kuda. Ketika berusia 7 tahun di Desa Wonoharjo sekitar 2 km dari Pantai Pangandaran, Jawa Barat, dia selalu mendekati kuda-kuda milik tetangganya.

Kuda-kuda dalam kandang di tanah seluas 8000 meter itu kerap dikunjunginya. Apalagi sang pemilik memang mengizinkannya untuk masuk ke dalam kawasan Wonohardjo Stable karena ada 30 kuda keturunan Australia dan kuda Sumbawa yang dipeliharanya dengan penuh cinta.

Dada, nama panggilan Arman Girana  dirumah neneknya juga suka memelihara binatang seperti sapi, ayam, domba, burung, kucing dan anjing kampung memiliki memori yang kuat dengan binatang peliharaannya plus nama masing-masing.” Saya punya anjing kampung namanya ayu yang sakit kulit dan diobatin tapi obatnya dijilatinya berakibat anjing itu tewas hingga rasanya menyesal dan sedih sekali ,” ujarnya mengenang.

Dada lalu mendapatkan anjing penggantinya yaitu anjing turunan seperti Pitbull, Chiwawa dan Golden tapi dengan nama-nama Sunda. Dada yang terus menempuh pendidikan harus pindah ke kota Bandung karena kuliah. Kebetulan dia juga dipercaya mengelola Manggala Stable milik salah satu pengusaha di Lembang selama 5 tahun sebelum akhirnya memiliki Pakuan Stable di kampung Buni Asih, desa Langensari, kecamatan Lembang sejak dua tahun lalu.

Pengusaha berusia 29 tahun itu kini menternakkan kuda blasteran untuk pacuan dan pelatihan kuda tunggang.” Kadang ada juga yang minta diajari menunggang kuda secara private dan kami layani. Tapi sekarang saya masih fokus pada cross breeding dulu karena permintaan juga cukup tinggi,” tuturnya sambil menambahkan istrinya Elle Vie sejak kecil juga pecinta kuda dan si sulung Andrea telah menjadi atlit berkuda. Sedangkan adiknya yang bernana Allaya senang berkuda di alam terbuka tidak terbatas di seputar istal.

Menurut Dada, kalangan pengusaha yang gemar memiliki kuda, ujarnya, tak segan-segan mengimport kuda langsung dari Inggris, Australia misalnya. Soal harga mereka tidak segan merogoh kocek antara Rp 500 juta-Rp 1 miliar/ ekor. Bahkan ada yang import kuda senilai Rp 2 miliar dari Inggris tapi baru dua hari tiba di Lembang, Bandung, kuda itu mati. “Jadi mengapa kita tidak mencoba untuk menternakkan sendiri di kandang-kandang kuda yang kita miliki sehingga kuda-kuda peliharaan itu sudah terbiasa dengan iklim dan cuaca di Indonesia,”

Kuda-kuda memiliki kategorinya masing-masing dan asalnya berbeda-beda. Kuda jumping itu biasanya berasal dari Australia. Kuda tunggang serasi atau keindahan biasanya dari Jerman karena kudanya lebih indah dan lebih lembut. Kuda tunggang inilah yang banyak dilatihnya.

Sebagai otodidak yang belajar bisnis dari apih, Dada menilai peluang untuk terjun ke bisnis kuda cross breeding lebih menguntungkan. Kuda blasteran itu biasanya jantan dari luar negeri dan betinanya kuda lokal. Oleh karena itu dia juga fokus menyediakan semua kebutuhan istal kuda di kawasan Jawa Barat bahkan termasuk menyiapkan Sumber Daya Manusia ( SDM) yang dibutuhkan. Sejumlah kuda titipan juga dirawat dari komunitas kudanya.

Pro-aktif dan terus menjalin silaturahim dengan pengelola istal kuda lainnya membuat Dada juga dipercaya untuk urusan lain mulai jadi kontraktor untuk membangun kandang-kandang dan lapangannya untuk berlatih kuda hingga jual-beli tanah. “saya juga bertani bayam Jepang, brokoli dan jadi petani cacing tiger untuk obat dan kosmetik” jelasnya karena ingin memberdayakan masyarakat di kawasan Lembanng

Dia pernah kerja kantoran di garment dan setiap hari harus berdasi. Kerja kantoran rupanya menyiksa batinnya, sementara bekerja di alam terbuka justru membuatnya bahagia.

Setelah kuliah di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (dahulu NHI) perguruan tinggi negeri dibawah naungan Kementerian Pariwisata, yang meraih Sertifikasi TedQual dari Organisasi Pariwisata Dunia (World Tourism Organization / WTO), Dada kembali fokus ke kandang kuda.

“Saya kini memiliki Pakuan Stable (istal) dan giat mencari rejeki untuk memperluas lahan kandang kuda agar menjadi salah satu daya tarik wisata ke Jawa Barat,” jelasnya.

pakuan istal2Di Parompong , Lembang memang sudah ada detasemen Kaveleri kuda milik TNI Angkatan Darat namun kuda-kuda itu milik negara dimana pengelolaannya sangat tergantung pada komitmen dari para penyelenggara negara, tergantung pula pada siapa yang menjadi pimpinan sehingga kondisi kandang, kuda-kuda dan perawatannya bisa terjaga sehingga layak di kunjungi wisatawan.

“Cita-cita sih punya sendiri sebuah istal kuda lengkap dan bisa membuat wisatawan dari dalam dan luar negri belajar menunggang kuda, bisa paham dari A-Z tentang kehebatan kuda-kuda lokal yang dimiliki dan kita punya tour kuda seperti kegemaran Allaya naik-turun bukit sambil berinteraksi dengan kuda yang kita tunggangi,” kata Arman Girana atau Dada ini.

Indonesia sampai saat ini memiliki 13 jenis kuda lokal, yaitu kuda Makassar, kuda Gorontalo dan Minahasa, kuda Sumba, kuda Sumbawa, kuda Bima, kuda Flores, kuda Savoe, kuda Roti, kuda Timor, kuda Sumatera (terdiri dari 4 jenis yaitu kuda Padang, kuda Batak, kuda Agam dan kuda Gayo), kuda Bali, kuda Lombok serta kuda Kuningan. Beberapa diantaranya memilki keunggulan sebagai kuda tunggang dan kuda pacu.

Dada mengaku ingin segera memamerkan pada wisatawan mancanegara bahwa Indonesia memiliki kuda-kuda lokal yang bagus. Dia juga yakin anak-anak Indonesia pasti ada yang punya keinginan menunggang kuda secara reguler atau bahkan memelihara kuda sendiri. Dia berharap Pakuan Stable nantinya bisa mewujudkan impian mereka meski hanya sekedar menyewa, melihat kandang-kandang, lapangan berlatih atau tour dengan kuda di alam terbuka.

“Komunitas kuda ada di berbagai negara dan kami terhubung melalui internet sehingga jika Pakuan Stable sudah layak menjadi destinasi wisata kuda maka kami akan berupaya menarik komunitas kuda di mancanegara untuk berkunjung ke Lembang, Jawa Barat. Kita bisa urus akomodasi, transportasi, tour dan menyelenggarakan workshop mengenai pemuliaan ternak kuda pacu Indonesia dan tema lainnya,” kata Dada.

Dalam mewujudkan cita-citanya itu, Dada mengaku tak segan-segan mencari nafkah dari berbagai pintu-pintu rejeki yang dipercayakan padanya seperti bertani sayur, jadi kontraktor rumah, bangunan istal hingga jadi suplai makanan dan semua kebutuhan kuda.

“Pokoknya sepanjang menjadi bisnis yang halal dan berkah akan saya jalani termasuk jadi supplier cacing tiger meskipun saya terus terang takut melihat cacing yang penting saya bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan punya istal yang holistic tempat semua kebutuhan kuda dapat terpenuhi,” ungkapnya.

Kegiatan bisnis yang dijalaninya saat ini justru karena kepercayaan yang diberikan padanya. “Kalau kita mengedepankan kepercayaan dan amanah melaksanakan tugas yang diberikan pada saya maka pintu rejeki dan kemudahan akan terbuka. Teman-teman pengusaha kuda atau property yang terpaksa menjual asset juga mempercayakan penjualan property mereka pada saya. Tahu-tahu saya dikasih uang sebagai fee dari hasil penjualan,” kata Dada polos.

Berbisnis dengan kepercayaan dimaknainya dengan berbisnis dengan Allah sehingga kejujuran dan kepercayaan itu yang harus dijunjung tinggi. Ketika manusia melakukan bisnis diantara sesama manusia maka sesungguhnya bisnis itu dilakukan dengan sang penciptanya.

Kan dalam agama sudah diajarkan bahwa berbuat kebaikan atau keburukan adalah untuk diri sendiri. Kalau kita tidak bisa dipercaya dan licik dalam berbisnis maka yang menerima akibatnya adalah diri sendiri,” katanya sambil mengakhiri obrolan karena harus kembali ke Lembang untuk mengecek para tukang bangunan yang bekerja menambah jumlah kandang di Pakuan Stable miliknya.(hildasabri@yahoo.com)

 

 

LEAVE A REPLY