ArtiStellar mempopulerkan Phototelling dikalangan generasi muda

0
821
Wamen Pariwisata dan Ekonomi kreatif kabinet Indonesia Bersatu, Sapta Nirwandar membuka pameran Phototelling di Gallery Cemara 6 beserta para seniman muda.

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: ArtiStellar popularkan Phototelling pada kalangan muda di Indonesia dengan menggelar pameran di Gallery Cemara 6 Jakarta, menceritakan sisi kehidupan masa lalu, kondisi sekarang, suatu hubungan kekeluargaan, peristiwa dan aktivitas sehari-sehari dengan menonjolkan cerita dibalik gambar.

“Pameran Phototelling 2015 ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran bagi anak muda akan seni fotografi. Mereka bisa saja bukan seorang fotografer tapi pecinta seni yang memiliki kepekaan dengan lingkungannya sehingga menghasilkan foto-foto yang dapat di tampilkan pada publik dan mendorong orang lain untuk menangkap pesan yang ingin dibagikan maupun menginspirasi,” kata Rissa Nirwandar.

Penggagas Phototelling yang juga pendiri dari ArtiStellar, sebuah event organizer di bidang seni ini mengatakan pameran diharapkan menjadi wadah untuk menampung aspirasi generasi muda dan dapat menginspirasi banyak orang melalui media fotografi. Acara yang dibuka mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Nirwandar ini digelar di Gallery Cemara 6 pada 23- 25 Januari 2015.

Rissa menambahkan selama tiga hari pameran sedikitnya ada 100 pengunjung dan uniknya mereka yang datang juga diminta untuk menilai foto-foto siapa yang paling menarik dari empat peserta yaitu Dimas Priambodo, Kafin Noe’man, Rissa Nirwandar dan Yudiandra Yuwono.

Setiap peserta Phototelling ini  memiliki konsep dan cerita masing masing yang disampaikan pada publik. .Dimas Priambodo, misalnya, menampilkan karya-karyanya dengan tema Alih Fungsi.

Dia mengkritik fasilitas umum yang tidak sesuai dengan fungsinya, suatu kritik kehidupan sosial Jakarta dengan menampilkan sketsa kehidupan orang-orang pinggiran Jakarta, seperti trotoar yang dijadikan toilet dadakan. Foto-fotonya dilengkapi display instalasi yang digantung diatas lampu-lampu sebagai simbolisasi dari masyarakat Indonesia dari berbagai daerah yang datang ke Jakarta untuk mengadu nasib dan menggantungkan harapan.

Peserta Phototelling lainnya adalah Kafin Noe’man dengan tema foto Sanctuary. Dia menceritakan kekelaman dan dinamika hidup setelah ditinggal kekasihnya. Kafin Noe’man mencoba meluapkan emosinya dengan foto arsitektur.

Sebagai anak yang dibesarkan di keluarga arsitek dan cucu dari Achmad Noeman, maestro arsitektur masjid Indonesia yang juga salah satu pendiri Ikatan Arsitek Indonesia, Kafin Noe’man merasakan kedamaian saat mengeksplorisasi arsitektkur candi borobudur, Prambanan dan tangga-tangga di Taman Sari, DIY. Dia menampilkan dinamika hidup yang hitam putih, gelap- terang, damai dan naik turun.

Sementara Rissa Nirwandar, memilih tema Kamar Mereka, suatu seri foto tentang eksistensi dan peranan orang tua yang direpresentasikan dengan objek objek di kamar orang tuanya yang tidak pernah berubah posisinya dan tumbuh bersama dalam kehidupannya.

Dia membuka seri fotonya dengan membidik lantai yang menganalogikan orang tua adalah landasan kehidupan,  cermin yang menganalogikan keteladanan, contoh positif atau fokus pada  lampu yang  menganologikan penerangan dalam hidup.

Hal-hal detil lainnya dalam sebuah kasur juga tidak luput dari jepretannya yaitu kasur menganalogikan sandaran dan kenyamanan serta  ditutup dengan foto langit-langit yang dimaksudkan adalah orangtua yang berarti ditinggikan atau dimuliakan yang menjadi penutup seri foto yang ditampilkannya.

Peserta lainnya, Yudiandra Yuwono menampilkan serangkaian foto dengan tema Wajah Lain Kepriyang menceritakan keindahan senja di Kepulauan Riau serta sketsa kehidupan sehari-hari di Tanjung Uban yang  merupakan salah satu terminal minyak Belanda yang hingga kini masih beroperasi.

Kota tua Tanjung Balai Karimun menjadi obyek fotonya mengisahkan perjalanan sebuah satu kota tua yang menjadi tempat  persinggahan pelaut yang melintasi Selat Malaka. Kedua kota yang berada di area perairan strategis di Kepulauan Riau itu bertahan hidup dibawah gemuruh perkembangan Batam dan Tanjung Pinang, lengkap dengan nuansa campuran budaya Melayu-Tionghoa.

Saat penutupan, Minggu, dari penilaian pengunjung ternyata seri foto terfavorit dimenangkan oleh Yudiandra Yuwono dengan tema Wajah Lain Kepri. Rissa berharap lewat pameran ini akan mendorong  kalangan anak muda untuk menyukai Phototelling karena foto-foto ini akan menjadi kapsul waktu yang tak ternilai – jendela berharga ke masa lalu dan inspirasi di masa depan. (hildasabri@yahoo.com)