Aries Mufti: Desa wisata syariah bisa menjadi turunan program SDSB Desa Emas.

0
1261
Aries Muftie. Ketua Asosiasi BMT se Indonesia yang juga sesepuh FKA ESQ memaparkan konsep Wellness dan Health Tourism yang bisa dikembangkan di program Desa Emas di seluruh Indonesia. ( foto: Hilda Sabri Sulistyo)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Pengembangan wisata syariah dapat diawali dengan bersinergi melalui program Satu Desa Satu BMT ( SDSB) atau disebut One Village One BMT (OVOB) Desa Emas sehingga turunan program yang dihasilkan adalah desa-desa wisata syariah dengan produk unggulan perawatan kebugaran untuk kesehatan tubuh.

“Seperti diketahui bahwa ‘koalisi’ organisiasi umat Islam dalam kongres ke 6 di Jogyakarta Febuari 2015 lalu yang dihadiri oleh Presiden Jokowi mengadopsi SDSB untuk  mensejahterakan masyarakat desa. Apalagi tahun ini pemerintah akan mendistribusikan dana sekitar Rp 1,4 miliar per tahun untuk setiap desa,” kata Aries Muftie, Ketua Umum Asosiasi BMT se Indonesia.

Berbicara di sela-sela kegiatan FGD Halal Tourism & Life Syle di Jakarta Convention Centre yang diselenggarakan Kemenpar, MES dan di dukung test.test.bisniswisata.co.id,  Selasa (12/5), Aries Mufti yang juga Ketua Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah ( MES) mengatakan dengan 82 ribu desa di Indonesia maka pemerintah sedikitnya akan mengucurkan dana lebih dari Rp 100 triliun.

“Disinilah peran BMT atau OVOB sebagai salah satu institusi di desa yang bisa mendayagunakan dana tersebut supaya tepat sasaran, tepat guna, hingga tepat waktu.
Untuk itu, kami menargetkan satu desa ada satu BMT karena telah teruji memiliki kelebihan tahan terhadap guncangan apapun dan memudahkan masyarakat dalam mengelola keuangan,” katanya.

Pihaknya menyediakan bantuan dan fasilitas berupa pelatihan, dukungan teknis, administrasi, hingga keuangan dengan mengadopsi program Saemaul Undong dari Korea Selatan sehingga diharapkan OVOB ini bisa menjadi bagian Desa EMAS yang melahirkan Enterpreneur, Mandiri dan aman.

“OVOB merupakan pendekatan baru untuk inklusi keuangan dan pengembangan himpunan atau komunitas di Indonesia. Untuk itulah kami di Forum Komunikasi Alumni (FKA) ESQ pimpinan Ary Ginanjar Agustian juga bersinergi dan mendukung program Desa Emas ini,” ujar Aries yang juga sesepuh FKA ESQ ini.

SDSB yang mengadopsi program Saemaul Undong dari  Korea Selatan mengikuti jejak Nabi Muhammad yang memberdayakan ekonomi desa terlebih dulu yaitu Madinah ketimbang langsung ke Mekkah yang sudah menjadi ibukota.

“Kalau desa-desa makmur maka kita bisa mengatasi masalah urbanisasi karena perpindahan penduduk dari desa ke kota dengan alasan ekonomi yang selama ini terjadi telah mendatangkan masalah serius bagi kita semua terutama jurang

kehidupan sosial kemasyarakatan yang melahirkan penyakit sosial seperti narkoba, korupsi, begal, prostitusi dan lainnya,”

Itulah sebabnya, bersinergi dengan berbagai pihak, salah satu pilot project SDSB yaitu Desa Cibuntu, di Kuningan, Jawa Barat ke depan bisa menjelma menjadi desa wisata syariah yang menawarkan produk pelayanan perawatan dan kebugaran tubuh.

“Selain Cibuntu menerapkan SDSB,  desa di kaki Gunung Ciremai ini memiliki pemandangan alam yang bagus dan kekayaan budaya karena ada situs sejarah dan purbakala yang terletak di Desa tersebut. Situs Bujal Dayeuh berumur 5000 tahun sebelum masehi. Belum lagi soal kuliner jadi kami akan mengembangkannya dengan pendekatan Wellness & Health Tourism,” jelas Aries Muftie.

Mengapa Health Tourism ? karena di daerah Kuningan, Jabar itu  juga akan dibangun semacam ‘rumah sakit’ untuk merawat para lansia yang akan melewatkan empat bulan selama musim dingin di negaranya dari Eropa, Amerika Serikat, Jepang dan negara lainnya dengan tinggal sementara di daerah Kuningan sebagai rumah ke dua mereka.

“Dalam hal ini Korea Selatan sudah leading menawarkan konsep Wellness dan Health Tourism. Lewat program Saemul Undong yang tahun 2013 mendapatkan penghargaan dari Unesco, mereka kembangkan produk wellness & healthy tourism sehingga Korea Selatan kini dmeikian maju apalagi perusahaan besar seperti Lotte Mart, Samsung secara intergrated atau secara berjamaah juga mendorong program pemerintahnya,”

Semakin mereka membagikan ilmu lewat kosnep Saemul Undong, semakin banyak negara itu mendapat pahala dan diberkati Allah sehingga untuk produk kesehatan dan kebugaran itu mereka akan menyasar sekitar 650 juta masyarakat muslim di Asean dengan membuat produk syariah artinya halalan toyyiban.

Korea tahu pasti soal kesehatan pemerintahan di negara Asean, Asia dan negara dari empat musim asal turis itu menjamin dengan pembiayaan kesehatan. Selama musim dingin karena faktor cuaca maka biaya yang dikeluarkan pemerintah setempat untuk para lansia ini jadi melonjak tinggi pula,”

Korea, India dan ke depannya juga  Indonesia, akan  menjadi alternatif  yang dapat menampung para orangtua di negara-negara empat musim sehingga biaya yang harus ditanggung pemerintah juga akan jauh berkurang. Aries Muftie memberikan gambaran untuk India kota yang dituju adalah Kerala.

Kerala adalah kota dengan masyarakat India terbersih dan paling maju dengan seratus persen melek huruf. Seluruh wilayah Kerala juga diberkahi dengan keindahan alam yang melimpah. Para wisatawan yang mendapat perawatan kebugaran dimulai dengan doa, yoga, prana dan cara medis.

Indonesia dengan 9 etno spa therapy juga akan menjadi pusat wellness & health tourism dunia. Kita banyak memilikikearifan lokal dalam perawatan kebugaran. Keunggulan SDM yang ikhlas bekerja sudah terbukti dimana di Korea,, Taiwan, Hongkong. Tenaga kerja perawat dari Indonesia justru yang paling dicari,” kata Aries Muftie optimistis dan mengakhiri diskusi singkatnya. (hildasabri@yahoo.com)

 

 

LEAVE A REPLY