Anggaran Pemerintah Dibatasi, Hotel Putar Otak Dongkrak Okupansi

0
311
TINGKAT HUNIAN HOTEL

MALANG, test.test.bisniswisata.co.id: Pengelola hotel-hotel di Malang, Jawa Timur, mengantisipasi penurunan okupansi terkait dengan penghematan anggaran pemerintah dengan berbagai program. Apalagi selama bulan suci Ramadhan hingga Hari Raya Idul Fitri tingkat hunian hotel mengalami keterpurukan. Kini pengelola hotel mulai putar otak untuk mendongkrak pendapatannya.

Manajer Umum Hotel Sahid Montana Malang Slamet Sudiharto mengatakan jika anggaran pemerintah dikurangi karena alasan penghematan hampir dipastikan akan berdampak pada tingkat okupansi hotel. Hal itu terjadi karena kegiatan yang paling gampang dibatalkan justru kegiatan rapat. “Karena itulah, pengelola harus kreatif menyikapi kondisi tersebut,” ujarnya di Malang, Senin (23/5/2016).

Penghematan serta pemotongan anggaran belanja kementerian dan lembaga senilai total Rp50,01 triliun yang dilakukan pemerintah diyakini bakal kembali memukul bisnis hotel dan industri terkait. “Kegiatan yang bisa menolong hotel agar tetap bertahan dengan banyaknya event. Terutama event bertaraf nasional. Di Kota Malang, kebetulan tahun ini ada tiga kegiatan bersifat nasional,” sambungnya

Kegiatan tersebut dipastikan dapat menolong hotel untuk dapat meningkatkan okupansi. “Kalau event bersifat lokal, susah mengangkat tingkat hunian karena kegiatannya bercorak sangat lokal,” ucapnya seperti dikutip laman bisnis.com.

Manager Sales & Marketing Hotel Best Western OJ Malang Ledya Shelfy menambahkan sampai dengan saat ini tingkat hunian hotel di Malang sebenarnya sangat bagus. Seperti di Hotel Best Western OJ Malang sendiri, tingkat hunian mencapai 74% dari 129 unit kamar. Namun adanya penghematan anggaran pemerintah perlu diantisipasi meski kegiatan meeting, incentive, conference, & exhibition (MICE) dari korporasi lumayan besar.

Proporsi kegiatan MICE dari korporasi sebesar 50% dan sisanya dari pemerintah. Karena itulah, jika kegiatan MICE dari pemerintah dikurangi, maka penurunan tingkat okupansi tidak terlalu tajam. Untuk mengangkat tingkat hunian hotel, maka yang bisa dilakukan dengan cara promo-promo kamar. Yang juga bisa dilakukan, menggenjot penjualan food & beverage (F&B).

Di hotel tersebut, sumbangan dari penjualan F&B terhadap total penerimaan pendapatan dari hotel sebesar 40%. Dengan melemahnya tingkat okupansi, maka F&B ditingkatkan sehingga bisa mencapai 50%. (*/BO)

LEAVE A REPLY