Anak Krakatau Meletus 56 Kali, Wisatawan Hati-hati

0
62
Gunung Anak Krakatau saat meletus (Foto: Youtube)

LAMPUNG, bisniswisata.co.id: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda Provinsi Lampung meletus sebanyak 56 kali dengan tinggi kolom abu bervarasi 200 meter hingga 1.000 meter di atas puncak kawah pada Rabu (11/7).

“Selama 24 jam dari pukul 00.00 – 24.00 WIB pada Rabu, durasi letusan Gunung Anak Krakatau 20-100 detik. Kami minta masyarakat juga wisatawan harus tetap waspada,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengutip data PVMBG, Kamis (12/7/2018).

Sutopo mengatakan, letusan disertai lontaran abu vulkanik, pasir dan suara dentuman. Secara visual pada malam hari, teramati sinar api dan guguran lava pijar. “Hembusan 141 kejadian dengan durasi 20-172 detik,” kata dia.

Sebelumnya, pada Selasa (10/7), Gunung Anak Krakatau meletus sebanyak 99 kali dengan amplitudo 18-54 mm dan durasi letusan 20-102 detik. Hembusan tercatat 197 kali dengan durasi 16-93 detik. Letusan disertai suara dentuman sebanyak 10 kali yang menyebabkan kaca pos pengamatan gunung bergetar.

Banyaknya letusan ini sudah berlangsung sejak tanggal 18 Juni 2018, dimana Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas vulkanik. Ada pergerakan magma ke luar permukaan sehingga terjadi letusan. Namun demikian status Gunung Anak Krakatau tetap Waspada (level 2). “Tidak ada peningkatan status gunung,” kata Sutopo.

Bahkan status Waspada ditetapkan sejak 26 Januari 2012 hingga sekarang. Status Waspada artinya aktivitas vulkanik di atas normal sehingga terjadinya letusan dapat terjadi kapan saja. “Tidak membahayakan selama masyarakat tidak melakukan aktivitasnya di dalam radius 1 km,” kata Sutopo.

Letusan Gunung Anak Krakatau yang melontarkan abu vulkanik dan pasir, tidak membahayakan penerbangan pesawat terbang dimana VONA (Volcano Observatory Notice For Aviation) tetap orange. “Jalur pelayaran di Selat Sunda pun tetap aman,” kata dia.

Letusan Gunung Anak Krakatau adalah hal yang biasa. Gunung ini masih aktif untuk tumbuh besar dan tinggi dengan melakukan erupsi. Gunung Anak Krakatau baru muncul dari permukaan laut tahun 1927. Rata-rata tambah tinggi 4-6 meter per tahun. Energi erupsi yang dikeluarkan juga tidak besar. “Sangat kecil sekali peluang terjadi letusan besar seperti letusan Gunung Krakatau pada 1883, bahkan beberapa ahli mengatakan tidak mungkin untuk saat ini,” kata Sutopo. (END)

LEAVE A REPLY