Agrowisata Kebun Teh Pagilaran, Jadi Destinasi Wisata Baru Andalan Pemkab Batang

0
26

BATANG, Jateng, bisniswisata.co.id: Terbangun ditengah udara pagi yang dingin membuat saya ingin menarik selimut lagi. Namun waktu sholat subuh yang nyaris habis membuat saya buru-buru menyelesaikan kewajiban dan langsung membuka kordein kamar.

Wow…rumah  atau homestay yang saya tempati sewaktu check-in semalam ternyata di tengah hamparan kebun teh yang luas. Maklum saat tiba keindahannya tertelan suasana malam. Meski demikian,  semalam saat ngobrol santai bersama Dirut PT Pagilaran, Rahmat Gunadi dan jajarannya sudah terkuak sejarah panjangnya keberadaan perkebunan ini.

Tahun 1840, seorang Belanda bernama E. Blink membuka tanah hutan di daerah Pagilaran kemudian ditanami dengan tanaman kina dan kopi. Ternyata hasil yang diperoleh kurang menggembirakan dan diganti menjadi perkebunan teh.

Tahun 1899 setelah mengalami sedikit perkembangan, perkebunan tersebut diambil alih oleh Maskapai Belanda yang berkedudukan di Semarang dan berkembang pesat.

Tapi tahun 1920 terjadi kebakaran dan usahanya berhenti total. Akhirnya pada tahun 1922 perkebunan teh ini dibeli oleh bangsa Inggris yang kemudian diadakan perbaikan kembali.
Tahun 1928, Perkebunan Pagilaran digabungkan dengan P & T Lands (Pemanukan dan Tiiasem).

Pada masa penggabungan ini dimulailah pembangunan sarana kabel ban untuk mempermudah pengangkutan pucuk teh dari kebun ke pabrik pengolahan teh. Sarana kabel ban ini akan diaktifkan kembali oleh manajemen Pagilaran karena bisa menjadi daya tarik wisata.

Oleh karena Inggris kalah dengan Jepang dalam perang Asia Timur Raya maka perkebunan dikuasai oleh Jepang dan tanaman perkebunan diganti dengan tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan tentara Jepang dalam perang Dunia II.

Tidak lama setelah Hirosima dan Nagasaki dibom oleh Amerika dan Jepang kalah perang, Inggris pun kembali mengambil alih pabrik dan melakukan kembali pembenahan dan pembangunan aset-aset pabrik. Mulai infrastruktur, alat produksi, rumah-rumah dibenahi, ungkap Rahmat.

Kebun sempat dikuasai oleh bangsa Inggris lagi hingga 1949 namun akhirnya setelah Kemerdekaan RI, Melalui Surat Keputusan Menteri PTIP, Prof. Ir. Toyib Hadiwijaya perkebunan diserahkan kepada Universitas Gadjah Mada untuk dijadikan sarana pendidikan dan penelitian mahasiswa.

Selanjutnya nama perusahaan diganti dengan Perusahaan negara (PN) Pagilaran dengan luas lahan lebih dari 1000 ha, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada harus mengelolanya sebagai entitas usaha yang produktif dan tidak boleh merugi.

Hal ini membawa kepada pilihan untuk tetap mengelolanya sebagai aset komersial yang produktif dan dikelola oleh PT. Pagilaran. Selanjutnya kebun Pagilaran dikelola dengan visi dan misi untuk mendukung tidak saja dharma pendidikan dan penelitian, namun juga pengabdian yang nyata terhadap masyarakat pelaku usaha perkebunan.

Seiring dengan proses tersebut Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada melalui PT. Pagilaran juga memperoleh Hak Guna Usaha lain seluas 208 ha di Segayung Utara, Kabupaten Batang Jawa Tengah untuk kemudian dikembangkan sebagai perkebunan kakao.

Status PN diganti menjadi PT Perkebunan Perindustrian Perdagangan dan Konsultasi PT Pagilaran dan selanjutnya  mendapatan surat penugasan dari menteri Pertanian Prof. Sumantri Sastrosudiarjo No. KB.340/97/mentan/II/1985 untuk menjadi Perusahaan Inti Rakyat (PIR) Jawa Tengah seluas 4700 ha yang tersebar di Kabupaten Batang, Banjarnegara, dan Pakalongan

Hal ini di dukung oleh SK dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Tengah Nomor: 525/05/740 yang prinsipnya mendukung keberhasilan pembangunan pertanian di Jawa Tangah.

Pada 29 September 2016, Yayasan Fakultas Pertanian UGM (Fapertagama) menghibahkan saham PT Pagilaran kepada UGM resmi dikelola oleh UGM secara penuh, bukan hanya Fakultas Pertanian saja, tapi juga sebagai Hak Guna Usaha lahan Perhutani.

Selain untuk dikelola sebagai teaching industry bagi civitas akademika UGM,  hibah aset ini ditujukan untuk mendukung Tridharma Perguruan Tinggi yang meliputi kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat

Dengan luas 1.130 hektare, Kebun Teh Pagilaran berada di atas ketinggian 600-1.600 meter di atas permukaan laut. Kebun terbagi jadi tiga zona berdasarkan ketinggian dan jenis tehnya.

Setiap tahunnya menghasilkan tidak kurang 8.000 ton teh, dan 80 % diekspor ke lebih dari delapan negara dunia, di Asia, Eropa, dan Amerika. Pada 2008, Pagilaran pun jadi pengekspor teh kedua terbesar dari Indonesia hingga kini.

Kebun Teh Pagilaran memiliki beberapa pabrik, mulai dari teh hitam di Batang dan Pekalongan, teh hijau di Banjarnegara, teh merah di Kulonprogo, juga ada pabrik cokelat di Batang. Pabrik di kebun Pagilaran ini  mengirim teh hitam yang diproses secara ortodoks dan teh hijau kualitas premium ke mancanegara.

Wisata kebun teh di perkebunan Pagilaran, Batang, Jateng. ( foto: Sendy)

Agrowisata Kebun Teh

Tea walk adalah salah satu produk agrowisata andalan dari perkebunan Pagilaran ini. Rahmat Gunadi sang CEO mengaku awalnya mundur maju untuk mengembangkan agrowisata teh. Apalagi kunjungan wisatawan ke perkebunan justru membawa sampah.

Namun kini pihaknya merasa mantap untuk mengembangkan agrowisata menjadi destinasi baru di Kabupaten Batang. Untuk itu program jangka pendeknya adalah merenovasi sarana dan prasarana yang ada dan membangun fasilitas baru seperti area glamping ( glamour Camping) dan  membuat taman bunga.

Tidak hanya pemandangan dan udaranya yang sejuk, di Pagilaran saat ini pengunjung bisa menikmati  Outbond, Flying Fox, dan area panahan. Hampir semua tempat di area perkebunan teh ini terdapat pula spot-spot foto yang Instagramable satu di antaranya yaitu jembatan cinta.

Pengunjung yang sebagian besar adalah anak muda sangat antusias untuk berfoto di area sekitar perkebunan teh dan tempat spot foto yang disediakan secara gratis.

Oleh karena itu untuk melengkapi fasilitas yang ada Rahmat Gunadi menambahkan bahwa pihaknya siap merenovasi kolam renang, rumah gladiola dan bogenvile, renovasi ruang meeting dan resepsi, menata area  parkir dan lingjungan serta membangun Tea House.

    Serunya naik truk menuju puncak perkebunan teh Pagilaran

Melalui anak perusahaan PT Pagilaran Mitra Wisata pihaknya juga akan memberdayakan para pegawai dan masyarakat sekitar untuk membentuk koperasi, membentuk Kelompok Sadar Wisata dan membangun Lembaga Ekonomi Masyarakat karena ke depan merekalah yang menjadi pemasok kebutuhan perkebunan maupun agrowisatanya.

Kini Pagilaran sedang giat membangun wisata agronya, dengan atraksi wisata berkeliling kebun dan pabrik teh, tea tasting, wisata kuliner seputar teh, homestay, dan ragam sajian budaya lokalnya.

Pagi ini yang saya lakukan bersama rombongan Press Tour Forum Wartawan Pariwisara, Kemenpar adalah melakukan tea walk. Sebuah truk sudah siap di depan wisma yang menjadi homestay semalam.

Sebuah bangku di depan  bak truk membuat kami mampu naik satu persatu ke dalam truk. Saling bercanda tak terelakkan karena kami berjejer seperti layaknya sapi potong yang dikirim antar daerah menjelang Hari Raya Idul Adha.

Semula saya memilih berdiri untuk melihat pemandangan namun tanaman tehnya sendiri  terhalang oleh badan truk sehingga lebih bisa menikmati langit biru dan pepohonan yang dilalui.  

Perjalanan menanjak menuju Bukit Kamulyan, melewati jalan berbatu-batu dan bergoyang-goyang. Sebelumnya,  kami mampir ke rumah dinas pimpinan perkebunan menjemput Guntur Sakti, Kepala Biro Komunikasi Publik, Kemenpar.

Idealnya jika ingin keliling harus keluar jam 5.00 pagi namun rombongan ini kesiangan karena acara semalam yang cukup padat hingga pukul 00.30 WIB. Meski matahari sudah sangat kuat namun udara sejuk dan kami turun di beberapa titik yang menyuguhkan pemandangan perkebunan teh yang indah.

Kotak kue untuk sarapan bisa dinikmati sementara anggota rombongan lainnya asyik berfoto Ria. Guntur dan teman-teman lainnya malah mengusung huruf -huruf besar di atas kepala sehingga terbentuk formasi tulisan P A G I L A R A N menyembul diantara daun teh.

Puncaknya setelah naik truk sekitar tiga kilometer, terlihat kebun yang menawan dengan barisan ibu-ibu pemetik teh. Anda bisa turun, berfoto bersama mereka bahkan belajar memetik teh yang baik itu seperti apa.

Perjalanan pulang rombongan meneruskannya dengan berjalan kaki. Jalanan lebih banyak menurun sehingga rombonganpun asyik berfoto di tengah rimbunnya pepohonan teh dengan latar pegunungan.  Rimbunnya jejeran pohon-pohon besar di area perkebunan mempercantik jatuhnya sinar matahari ke tanah.

Saya sibuk menguji adrenalin melewati jalan layang di area kebun yang banyak di kunjungi wisatawan, sementara sebagian teman melongok kawasan pabrik, melihat mesin-mesin teh dengan ukuran sangat besar, rata-rata ukurannya sebesar mobil. Mulai mesin oksidasi, pengeringan hingga sortasi.

Wisatawan akan diajak ke bagian atas, untuk melihat proses produksi dari layar kaca. Karena pabrik ini sangat mengutamakan higienitas, sehingga pengunjung hanya bisa melihat dari atas melalui kaca, mulai pengeringan teh, sortasi, dan proses produksi lainnya.

berfoto dengan para pemetik teh, pekerja perkebunan

Sukses melewati jembatan layang di ketinggian sekitar 7 meter dengan pijakan potongan kayu yang tidak merata dan kadang harus lompat,  saya menyempatkan foto-foto di pojok-pojok taman sebelum akhirnya berjalan naik lagi menuju pelataran tempat semalam menonton pertunjukan tari petik teh dan suguhan musik campur sari.

Bau aroma kuah soto dan menu pelengkap lainnya langsung menyergap hidung. Tanpa dikomando lagi rombongan yang terdiri dari 16 orang langsung menyantap sarapan pagi di tengah udara terbuka dan sinar matahari.

Sambil duduk santai seorang teman dengan muka kemerahan dan berkeringat, menyeruput teh manis. “Nikmat mana lagi yang kau dustakan,” ucapnya penuh rasa syukur.

Benar sekali, begitu nikmatnya tea walk di perkebunan teh apalagi kami berada di satu2nya perkebunan teh besar di Jawa Tengah. Beragam aktivitas sudah menunggu dalam tiga hari wisata di kota Batang ini. Yuk eksplor lagi keindahannya.






LEAVE A REPLY