Adu Domba, Antara Tradisi & Atraksi Wisata yang Lestari

0
2071
Atraksi wisata Adua Domba

SUMEDANG, test.test.bisniswisata.co.id: Sumedang tak cuma dikenal dengan makanan khasnya, tahu. Lebih dari itu, Sumedang memiliki segudang destinasi yang menjanjikan. Sebut saja wisata alam seperti sumber mata air panas Cipanas Sekarwangi dan Cilengsi. Bahkan, Cadas Pangeran, tempat rekreasi Alami Curug Sindulang, Wisata Gunung Kunci, Bumi Perkemahan Kiara Payung, Wisata Alam Copanteuneun, juga wisata Gunung Kareumbi.

Bahkan kota kecil di antara dua kota besar, Bandung dan Cirebon pada jaman dahulu dikenal sebagai lokasi kerajaan Sumedang larang yang didirikan oleh Praburesi Tajimalela (kurang lebih 1340 – 1350 M). Sumedang pun memiliki wisata peninggalan sejarah yang tak kalah menariknya dengan daerah lain di Indonesia. Seperti Museum Prabu Geusan Ulun, bekas benda-benda bekas peninggalan raja-raja di zaman kerajaan Sumedang Larang.

Disamping itu, Sumedang punya wisata Ziarah, ada Makam Cut Nyak Dien (pahlawan nasional dari Aceh), Makam Dayeuh Luhur (leluhur Sumedang), Makam Pasarean Gede (pejuang Islam di Sumedang), Makam Gunung Lingga, Makam Marongge. Keberadaan makam-makam itu, menjadikan setiap bulan tertentu di Sumedang selalu dibanjiri wisatawan nusantara.

Di Sumedang juga ada wisata golf yakni lapangan Golf Giri Gahana. Kawasan wisata Kampung Toga atau kampung tanaman obat-obatan, yang merupakan objek wisata keluarga dengan lingkungan pegunungan yang indah dan nyaman, Cocok untuk pertemuan dan pesta. Juga ada wisata olahraga untuk outbond, paraglaiding, gantole, Arung jeram, hiking, jogging, off-road, game war (paint ball/airsoft gun), horse riding dan lainnya.

Tak bisa diremehkan, Sumedang memang punya segudang obyek wisata yang paling lengkap. Apalagi ditambah dengan atraksi wisata budaya, adu domba yang namanya tidak asing lagi orang Sunda. Hampir seluruh kota di Jawa Barat memiliki atraksi wisata ini. Namun adu domba yang digalakkan di Sumedang, tak mau tertinggal dengan kota lain di Jawa Barat.

Adu domba merupakan salah satu kesenian khas rakyat Jawa Barat yang cukup digemari, terutama di kalangan tradisional. Kesenian ini merupakan peninggalan leluhur yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Padjajaran ratusan tahun silam, yang masih bertahan eksistensinya hingga saat ini.

Malah di era modernisasi ini, atraksi wisata adu domba semakin meningkatkan mutunya, semakin menambah daya tarik, semakin menggelitik, dan semakin penasaran bagi wisatawan untuk datang menyaksikannya.

Jangan heran jika setiap event adu domba selalu dipadati penonton, wisatawan nusantara dan sebagian kecil wisatawan asing. “Kalau ada tamu hotel, baik dari lokal maupun asing, warga desa Bumi Kahyangan Sumedang pasti menggelar, ya untuk menghormati tamu yang datang. Ternyata mereka banyak yang senang dengan atraksi adu domba ini,” ungkap Mang Udin, tokoh Bumi Khayangan.

Udin menjelaskan adu domba ini memang ada yang menentang karena ada unsur memaksa hewan untuk bertarung. Padahal ini merupakan kesenian peninggalan budaya masyarakat sekaligus sebagai atraksi wisata serta ajang kompetisi ketangkasan dari domba petarung.

Domba yang dilombakan adalah jenis domba petarung yang memiliki tanduk melingkar, badan yang kekar, berbulu tebal. Domba yang berbobot 60 kilogram hingga 100 kilogram ini dilatih untuk memiliki naluri berkelahi dengan sesamanya. “Malah kalau domba tidak diadu dalam waktu tertentu, malah bisa pusing dan kalau pusing maka sangat berbahaya bagi lingkungan sekitarnya, artinya bisa ngamuk,” timpal K. Sujatmiko.

Tak ubahnya pertandingan tinju, adu domba ini juga terdiri wasit, pelatih domba, dan juri penilai. Juga diiringi suara gendang, gong serta teriakan penonton yang memberikan semangat. Aturan mainnya, begitu ada aba-aba dari wasit dua ekor domba petarung dilepas untuk berlari kencang ke arah berlawanan. Tanduk pun beradu dengan suara keras. Sungguh menegangkan. Dan pertarungan itu palinng banter hanya 12 tandukan antar domba.

“Wasit akan menghentikan pertandingan bila salah satu domba terlihat lemah, atau tak mau bertarung lagi juga kadang kadang domba menghindari lawannya. Dan domba yang menang akan diadu lagi dengan domba lainnya sampai terpilih juaranya,” papar Asep, pemilik domba.

Juga, sambung Asep, pada atraksi atau kompetisi adu domba penilaian tidak hanya tentang menang-kalah di arena aduan berupa tanah lapang yang dikeliling penonton, namun penilaian juga pada teknik bertanding, pukulan tanduk, keberanian domba, postur tubuh, kesehatan bahkan asesoris yang dipakai domba, seperti kalung dengan rantai dari kulit sapi serta bebunyian yang khas.

“Asesoris yang dipakai domba itu harganya bisa puluhan juta. Biasanya domba yang menang selalu diberi asesoris yang mewah. Kemenangan domba saat bertarung juga menambah harga domba itu semakin mahal mencapai puluhan juta rupiah,” ungkapnya.

Yang menarik lagi dari aduan domba ini, saat pergantian domba baru yang akan diadu selalu diselingi atraksi pencak silat, yang ditampilkan para orang-orang tua yang dianggap warga desa sebagai jawara. Atraksi pencak silat itu selalu diiringi musik tradisional, bahkan sekali-kali teriakan MC yang memberikan semangat ke[pada para jawara untuk mempertontonkan kepiawaiannya dengan jurus-jurus silatnya.


Sejarah adu domba

Dalam catatan sejarah Masyarakat Sunda, adu domba atau domba adu, permainan rakyat ini diketahui muncul sejak tahun 1931 – 1932 di kampung Cibuluh Garut. Konon menurut cerita, orang pertama yang telah berhasil mengembangkan domba-domba berkualitas baik untuk pamidangan di Garut adalah Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa dengan teman seperguruannya yang bernama H. Soleh.

Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa, seorang Bupati Garut yang telah memimpin pada periode 1915-1929, mempunyai kegemaran berburu dan memelihara domba. H. Soleh yang tinggal di Cibuluh juga gemar memelihara domba. Saat itu perkampungan Cibuluh belum padat seperti sekarang ini, serta keadaan sekitarnya masih berupa hutan belantara.

Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa sering berkunjung ke sana, selain untuk berburu juga mengunjungi sahabatnya itu. Dalam tiap kunjungannya, beliau memperhatikan pula cara sahabatnya menangani domba-domba peliharaannya, mulai dari pengandangan, pemberian makanan sampai pemilihan bibit.

Cara pemeliharaan yang dilakukan oleh H. Soleh saat itu dinilainya kurang baik. Misalnya, domba jantan dan betina ditempatkan dalam satu kandang, pemberian makanan (rumput) hanya pada saat digembalakan, dan tidak ada seleksi dalam mengawinkan domba.

Pada suatu hari, ketika sedang mengunjungi H. Soleh, Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa melihat seekor domba betina bertanduk lebih bagus dibandingkan dengan yang lainnya. Ketika mengetahui bahwa domba yang akan meneruskan keturunannya adalah domba jantan biasa seperti pada umumnya, Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa yang kebetulan memiliki domba jantan bernama Si Dewa, mengusulkan domba H. Soleh yang dipanggil Si Lenjang dikawinkan dengan Si Dewa.

Ide ini muncul mengingat Si Dewa memiliki nilai lebih daripada domba-domba Cibuluh, maka dianggap dapat meneruskan keturunan yang lebih baik. Disamping itu, dengan mengawinkannya dengan Si Dewa, kelebihan Si Lenjang dapat berkelanjutan pada keturunannya.

Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa membawa Si Dewa ke Kampung Cibuluh untuk dikawinkan dengan Si Lenjang. Beberapa bulan kemudian, lahir domba jantan dan betina. Domba jantan diberi nama Si Toblo, sedangkan yang betina tidak diberi nama. Selain itu dengan Si Lenjang, Si Dewa dikawinkan pula dengan domba betina lain sehingga keturunannya bertambah banyak.

Ketertarikan masyarakat akan kegagahan dan kelincahan domba sejak adanya Si Dewa, telah memotivasi para penggemar domba untuk mengadakan hiburan rakyat berupa pertandingan domba yang disebut Ngaben, baik di Cibuluh-Garut maupun di Sumedang. Adu domba kini sudah merakyat bagi masyarakat Sunda Jawa Barat, sehingga setiap daerah di Jawa Barat selalu menonjolkan atraksi wisata ini. (endy poerwanto)

LEAVE A REPLY