8 – 11 Agustus 2017, Festival Lembah Baliem 2017

0
978
Festival Lembah Baliem (Foto: Dodi Sandradi)

JAYAWIJAYA, Bisniswisata.co.id: Festival Budaya Lembah Baliem 2017, kembali hadir. Kehadiran yang memasuki tahun ke 28, bisa jadi menjadi festival tertua di Papua bahkan Indonesia. Setiap tahun festival ini digelar, sayangnya tak ada dukungan apapun dari Kementrian Pariwisata.

Meski disepelekan pemerintah pusat, namun Festival Lembah Baliem 2017 dengan tema “Art of Dance & War” tetap jalan dan tahun ini diselenggarakan di Distrik Welesi Kabupaten Jayawijaya Papua, pada 8-11 Agustus 2017.

Festival ini, bertujuan untuk melestarikan sekaligus mempertahankan budaya peninggalan leluhur di daerah Jayawijaya Papua, yang mulai terkikis seiring perkembangan zaman, sehingga dengan festival ini dapat dinikmati masyarakat Jayawijaya & Papua juga Indonesia maupun mancanegara.

Tujuan lainnya, terus mengaktifkan sekaligus menggerakkan seni budaya kearifan lokal agar lebih menonjol sehingga menjadi hiburan masyarakat. Bahkan dengan kegiatan Festival Budaya Lembah Baliem 2017 ini, diharapkan dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat yang ada di Jayawijaya, baik itu sopir, pemilik mobil, pemilik hotel, pemilik toko, serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah di sektor pariwisata.

Selain itu mengangkat destinasi wisata Papua di kancah internasional. Dengan kata lain, dengan Festival Budaya Lembah Baliem dapat mendatangkan wisatawan dari dalam maupun luar negeri. Tahun 2016, tercatat sebanyak 41.275 wisatawan nusantara dan 1.214 wisatawan mancanegara hadir menyaksikan festival ini. Ditargetkan tahun 2017 ada kenaikan 20 persen.

Festival Budaya Lembah Baliem ke 28 ini, akan ada beberapa katagori baru yang akan ditampilkan, diantaranya pemecahan rekor MURI (ORI) & RHR untuk Kategori Lempar 1000 Sege (tombak tradisional suku Dani).

Salah satu kegiatan yang paling menonjol dam disukai wisatawan adalah perang-perangan yang diikuti sekitar 3000 peserta dari 40 distrik di Kabupaten Jayawisaya. Ini merupakan ajang adu kekuatan antarsuku dan telah berlangsung turun temurun namun tentunya aman untuk dinikmati.

Dalam festival ini juga dapat melihat langsung semua ragam suku di Dataran Tinggi Wamena dan Lembah Baliem berkumpul untuk merayakan festival tahunan bersama. Meski perang-perangan ini hanyalah skenario, namun tetap menghasilkan suasana yang menegangkan karena benar-benar terlihat adegan saling lempar tombak dan berteriak antar suku. Pengunjung akan tetap aman karena sudah disediakan tempat duduk khusus untuk menonton acara ini.

Juga lomba foto dengan total hadiah puluhan juta rupiah, atraksi Budaya Lembah Baliem, keterampilan memainkan alat musik PIKON (alat musik tradisional Jayawijaya), bakar batu, atraksi tari-tarian tradisional Lembah Baliem, karapan babi serta lomba membuat api ala Suku Dani. Bahkan pameran kerajinan tradisional.

Lembah Baliem merupakan lembah indah di bentangan Pegunungan Jayawijaya. Lembah Baliem berada di ketinggian 1700 meter dari permukaan laut yang dikelilingi pegunungan dengan pemandangannya yang indah dan masih alami. Suhu bisa mencapai 8-15 derajat celcius pada waktu malam.

Suku Dani, Suku Yali dan Suku Lani adalah beberapa suku yang tercatat tinggal di sini. Untuk dapat sampai ke Lembah Baliem, pengunjung harus melewati bandara utama Provinsi Papua, yakni Bandara Sentani, yang dapat diakses menggunakan maspakai penerbangan dari Jakarta, Surabaya, dan Manado. Setibanya di Bandara Sentani diteruskan pesawat jenis Hercules maupun Twin Otter menuju Wamena, Ibukota Kabupaten Jayawijaya.

Festival Lembah Baliem awalnya merupakan acara perang antar suku Dani, Lani dan Suku Yali sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan. Sebuah festival yang menjadi ajang adu kekuatan antar suku dan telah berlangsung turun temurun namun tentunya aman untuk Anda nikmati.

Awalnya pertama kali digelar tahun 1989. Yang istimewa bahwa festival ini dimulai dengan skenario pemicu perang. Keunikan dan keotentikan budaya mereka tersebut menjadikan Festival ini selalu ramai dikunjungi oleh fotografer dan wisawatan dari penjuru dunia. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY