60 Persen Wisman Minati Wisata Berbasis Budaya

0
179
Istana Pagaruyung, Wisata Budaya Tanah datar butuh keseriusan datangkan wisatawan

TANAH DATAR, Bisniswisata.co.id: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengungkap sekitar 60 persen wisatawan mancanegara (wisman) menimati wisata berbasis kebudayaan, seperti terpeliharanya adat istiadat, peninggalan sejarah, atau bangunan kuno yang tinggi nilainya.

“Kami mengapresiasi, mendukung Pemerintah daerah termasuk Kabupaten Tanah Datar untuk mengembangkan objek wisata berbasis budaya yang terus menjaga keaslian adat, budaya, dan peninggalan sejarah daerah itu sehingga jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat setiap tahun,” papar Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid.

Saat kunjungan kerja ke Batusangkar, Tanah Datar, Sumatera Barat, Senin (24/4/2017), Dirjen Kebudayaan sangat tertarik dengan langkah yang ditempuh Tanah Datar dalam mengembangkan wisata budaya. “Dan ini harus dicontoh daerah lainnya agar wisata budaya menjadi daya tarik wisatawan,” ungkapnya sepert dilansir laman Antaranews, Selasa (25/04/2017).

“Sektor pariwisata merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan asli daerah dan pendapatan nasional dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat,” katanya.

Untuk itu, Ia meminta Pemkab Tanah Datar bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Batusangkar membuat kajian yang konfrehensif terhadap pengembangan objek wisata berbasis kebudayaan di daerah itu. “Hal itu selaras dengan draf undang-undang tentang kebudayaan yang kita usulkan dan saat ini sedang dibahas di DPR RI,” katanya.

Tercatat ada lima wisata budaya di Tanah Datar Sumatera Barat. Antara lain:

01. Istana Pagaruyung

Istana Pagaruyung atau Istano Basa adalah sebuah istana yang terletak di Kecamatan Tanjung Emas, kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat yang merupakan Tempat Wisata Budaya Andalan Sumatera Barat. Istano Baso yang berdiri saat ini sebenarnya adalah replika dari yang asli yang terletak diatas Bukit Batu Patah dan terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah yang terjadi pada tahun 1804. Istana tersebut kemudian didirikan kembali namun terbakar kembali pada tahun 1966 lalu. Proses pembangunan kembali Istano Basa dilakukan dengan peletakan Tunggak Tuo (taing utama) pada 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu.Bangunan ini didirikan pada lokasi yang lama tetapi dibangun dilokasi yang baru disebelah selatannya. Namun pada tahun 2007, Istano Basa mengalami kebakaran hebat kembali akibat petir yang menyambar di puncak istana.

02. Cagar Budaya Batu Batikam

Batu Batikam (Batu Yang Tertusuk) salah satu benda cagar budaya bersejarah di Jurung Dusun Tuo, Nagari Lima Kaum. Menurut sejarah, Batu Batikam atau tusukan yang ada ditengah batu itu merupakan bekas tusukan dari keris Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Cagar budaya seluas 1,800 meter persegi ini dulunya berfungsi sebagai medan nan bapaneh atau tempat bermusyawarah para kepala suku. Susunan batu disekeliling Batu Batikam seperti sandaran tempat duduk berbentuk persegi panjang yang melingkar. Pada bagian tengan terdapat Batu Batikam dari bahan Batuan Andesit. Batu ini berukuran 55 x 20 x 40 centimeter dengan bentuk hampir segitiga. Prasasti Batu Batikam menjadi salah satu bukti keberadaan Kerajaan Minangkabau pada Zaman Neolitikum. Batu Batikam merupakan batu tertusuk yang melambangkan pentingnya perdamaian dan musyawarah mufakat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

03.Benteng Van Der Capellen

Benteng Van Der Capellen adalah benteng peninggalan Belanda yang berada di kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Di situs ini Anda dapat mengetahui sejarah panjang. Keberadaan Benteng Van Der Capellen tidak terlepas dari peristiwa peperangan antar Kaum Adat melawan Kaum Agama yang terjadi sekitar tahun 1821. Untuk lebih jelas mengetahui Sejarah yang terdapat di Benteng Van Der Capellen silahkan Anda untuk mengunjungi Benteng Van Der Capellen ini.

04. Gedung Indo Jolito

Gedung Indo Jolito adalah salah satu bangunan berarsitektur kolonial peninggalan pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia yang terlatak di kota Batusangkar, Ibukota Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Bangunan berastektur seni sangat tinggi ini dibangun antara tahun 1822-1824 sewaktu terjadinya Perang Padri. Saat ini Gedung Indo Jalito digunakan sebagai rumah dinas Bupati Kabupaten Tanah Datar dan telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya Provinsi Sumatera Barat.

05. Rumah Gadang Kampai Nan Panjang

Rumah Gadang Kampai Nan Panjang adalah bangunan bersejarah yang terletak di Nagari Belimbing atau sekitar 13 kilometer dari Batusangkar tepatnya berada di Kecamatan Rambatan. Rumah Gadang Kampai Nan Panjang didirikan oleh Datuk Penghulu Basa dari Suku Kampai Nan Panjang sekitar 300 tahun lalu. Rumah Gadang Kampai Nan Panjang merupakan rumah tempat tinggal yang memiliki arsitektur bergaya khas Minang dengan atap yang bergonjong empat terbuat dari ijuk. Keseluruhan bangunan bagian luar terdiri dari kayu berwarna hitam dan hanya terdapat satu pintu masuk kedalam rumah dengan tangga yang berada tepat ditengah-tengah. Bangunan ini terdiri dari tujuh kamar yang masing-masing berukuran 1,5 x 3 meter persegi. Sementara pada ruangan tengah rumah gadang ini merupakan ruangan terbuka tanpa sekat atau dinding pembatas.Dinding bagian dalam dan luar polos tidak ada ukiran. Ruangan dalam bagian belakang merupakan bilik-bilik yang berfungsi sebagai kamar tidur. Pintu bilik berukuran oval dengan diameter sangat kecil sehingga untuk masuk ke dalam bilik harus membungkuk. (*/ano)

LEAVE A REPLY