Musik Angklung Pecahkan Rekor Dunia pada Ajang KAA 2015

0
394

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Angklung Indonesia telah mendapat pengakuan resmi dari UNESCO sebagai bagian dari Warisan Budaya Dunia atau The Intangible Heritage of Humanity, UNESCO pada 18 November 2010 di Nairobi, Kenya, Afrika.

Angklung itu sudah mendunia, sering dipromosikan dan dibawa oleh delegasi Indonesia dalam berbagai ajang pameran di banyak negara. (seperti yang ditulis red- Pada Ajang Festival Black Sea XI di Bulgaria).

Pada Kamis  (23/4/15) alat musik angklung yang menggunakan bahan bambu ini mencatatkan diri menjadi rekor dunia dengan 20.000 pemain mengiringi lagu We are The World ciptaan Michael Jackson dan Lionel Richi.
“Terus terang, saya juga merinding dengan jumlah pemain angklung sebanyak itu, saya makin penasaran, seperti apa efek suara yang ditimbulkan di show kolosal itu. Saya membayangkan, pasti spektakuler dan memukau! Dan itu akan menjadi bahan perbincangan di arena Peringatan KAA ke-60,” ujar Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya.

Menurut Menpar yang juga Ketua Side Events Peringatan KAA (Konferensi Asia Afrika, 19-24 April 2015), angka 20.000 itu bukan sembarangan. Angka yang sulit, koordinasinya juga tidak mudah. Tribun lapangan sepak bola akan penuh dengan lautan angklung.

Keberadaan angklung sebagai warisan budaya dan diakui oleh lembaga PBB yang bergerak di bidang Pendidikan dan Kebudayaan itu menyusul setelah keris, wayang, dan batik yang lebih dulu ditetapkan sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia.

Arief mengatakan, “Kita harus bangga dengan karya budaya asli itu. Anak-anak muda juga bisa bermain angklung dengan indah”.

UNESCO menilai, angklung memenuhi kriteria sebagai warisan budaya bukan benda yang diakui dunia internasional. Angklung juga dianggap menjadi bagian penting identitas budaya Jawa Barat dan Banten. Seni musik ini mengandung nilai-nilai dasar kerjasama, saling menghormati dan keharmonisan sosial.
“Karena itu, menampilkan angklung di pentas internasional sebagai side event nya peringatan KAA sudah pas. Ada kekuatan budaya yang bisa ditampilkan di saat banyak orang asing yang berkunjung ke Bandung. Pemecahan rekor dunia ini semakin memperkokoh potensi dan keunikan budaya kita dalam peta pariwisata dunia,” jelasnya.
Sebelumnya, Guinness World of Record pernah mencatat rekor bermain angklung kolosal di Beijing, Tiongkok. Kala itu Kedutaan Besar RI di Beijing bersama Perhimpunan Persahabatan Indonesia Tiongkok (PPIT) mencatatkan 5.393 pemain angklung di Stadion Buruh Beijing.
Di sana, orchestra angklung pimpinan Daeng Udjo itu memainkan beberapa lagu, seperti Manuk Dadali, lagu berbahasa Mandarin Yueliang Daibiao Wo De Xin, dan lagu kebersamaan: We Are The World.
Rekor yang dibukukan di ibu kota China itu, sudah menggugurkan catatan kolosal sebelumnya, yang digelar di kaki Monumen Nasional Kebanggaan AS di Washinton DC. Konsep acaranya dirancang oleh Dino Patti Djalal, Mantan Dubes RI untuk USA. Saat itu, dicatat 5.102 orang ikut bermain, dan mendendangkan lagi yang sangat popular di USA saat itu, We Are The World dan Take Me Home Country Road. 
Di Adelaide, Australia, konser angklung terbanyak pernah dimainkan dalam Royal Adelaide Show 2014, pada 13 September 2014. Di acara pameran tahunan pertanian terbesar di Negeri Kanguru Selatan itu host-nya adalah Royal Agriculture and Horticulture Society of South Australia. Mereka mengklaim ada 6.100 angklung (dari 7.000 yang dibawa dari Indonesia), dimainkan bersama oleh pengunjung acara itu dari berbagai usia. Karena itu, jumlah itu layak dicatat sebagai peraih rekor baru.
Waltzing Maltida, lagu yang khas Australia dan Happy Birthday dimainkan dengan instrument khas angklung, dalam rangkaian perngatan 175 tahun Royal Agriculture Society of South Australia.  Tetapi, sampai sekarang belum ada keterangan resmi dari Guinness Book of The Record, yang mencatat rekor itu.
“Di manapun dan dalam jumlah berapapun juga, pentas musik etnik angklung itu harus diapresiasi. Mereka turut mempopulerkan karya budaya asli Indonesia yang telah lama mengakar kuat,” ungkap Arief Yahya.
Arief menambahkan, “Begitu mendengar istilah angklung, melihat bambu pembuat angklung, mendengar suara musik berbasis bambu, yang ada di pikiran orang langsung ke Indonesia. Ini sama dengan mempromosikan kekayaan budaya Indonesia”. (*/evi)

LEAVE A REPLY