44 Wisatawan Pendaki Gunung Rinjani Hilang

0
270
Anak gunung Rinjani meletus (Foto: news.okezone.com)

MATARAM, test.test.bisniswisata.co.id: Sebanyak 44 orang wisatawan, baik wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus) belum terdeteksi keberadaannya di Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Hilangnya wisatawan pendaki itu setalah terjadinya letusan Gunung Barujari – anak gunung Rinjani pada 27 September 2016.

“Hilangnya wisatawan itu setelah tim dari Basarnas, TNGR, Kepolisian dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukaan pendataan jumlah Wisman maupun Wisnus yang sudah masuk di kawasan Gunung Baru Jari untuk diminta keluar dari radius 3,5 kilometer,” papar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, H Muhammad Rum di Mataram, Jumat (30/09/2016).

Ia merinci, jumlah wisatawan yang masuk TNGR pada 25 September melalui pintu Sembalun untuk Wisman sebanyak 86 orang, dan pintu Senaru 16 orang. Sedangkan Wisnus hanya melalui pintu Sembalun sebanyak 30 orang.

Pada 26 September, sebanyak 136 wisman masuk melalui pintu Sembalun dan 38 lainnya lewat pintu Senaru. Sedangkan, 18 wisnus melalui pintu Sembalun. Sehari setelahnya, tercatat 112 wisman masuk melalui pintu Sembalun, dan 20 lainnya lewat pintu Senaru. Sedangkan, delapan wisnus melalui pintu Sembalun. Total wisatawan pada rentang waktu sejak 25 September hingga 27 September sebanyak 464.

Letusan Gunung Barujari pada 27 September, membuat Pos Pengamatan TNGR mengeluarkan rekomendasi kepada seluruh wisatawan untuk keluar dari area tersebut. Muhammad Rum menyampaikan, sebanyak 420 wisatawan telah keluar dari area tersebut pada 28-29 September. “Artinya yang masuk 464 orang, sedangkan yang keluar 420 orang, dan tersisa 44 orang,” ungkapnya.

Menurutnya, perbedaan selisih jumlah wisatawan yang masuk dan keluar dikarenakan ada yang keluar tidak melalui pintu Sembalun dan pintu Senaru. Ia menilai, kemungkinan wisatawan tersisa masih ada di sekitar pos-pos yang ada. Jarak pos yang terdekat dengan kaldera adalah 3,5 kilometer, sehingga keberadaan mereka masih ditoleransi. “Karena, yang harus steril adalah radius 3 km dari kaldera,” katanya. (*/R)

LEAVE A REPLY