Dr Robert Sinto: Tips berwisata aman bagi penderita penyakit maag

0
1519
Dr Robert Sinto SpPD, dokter ahli penyakit dalam RS Pelni

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Minat masyarakat Indonesia untuk berwisata baik di dalam maupun luar negri terus meningkat dari tahun ke tahun di dorong makin berkibarnya penerbangan berbiaya rendah atau low cost carrier (LCC) yang terjangkau.

Kehadiran penerbangan itu bahkan membuat wajah penerbangan Asean berubah secara signifikan.karena operasional LCC sekarang mencapai separuh dari dari semua kapasitas penerbangan internasional dan domestik yaitu di Filipina (61%), Indonesia (53%), dan Malaysia (48%).

Berwisata dipercaya mampu menghilangkan kejenuhan dari rutinitas sehari-hari, dan tentunya membuat hidup lebih indah dan menarik untuk dijalani. Maka tak mengherankan bila banyak keluarga yang menyempatkan diri untuk berwisata ke berbagai destinasi wisata favorit seperti Bali, Jogja, Lombok dan begitu pula obyek wisata rekreasi keluarga di singapura, Malaysia bahkan hingga Disneyland di Tokyo, Hongkong maupun Amerika Serikat..

Perjalanan wisata di kawasan intra Asean cukup tinggi terutama di masa liburan sekolah apalagi di dukung tersedianya  LCC. Apalagi berwisata ke negara tetangga  digemari karena selain dapat mengenal seni, budaya serta kuliner juga sekaligus mengedukasi keluarga untuk melihat keunggulan dan daya saing suatu negara dibandingkan dengan Indonesia.

Namun sebelum berwisata ada baiknya mempersiapkan diri terlebih dahulu jangan sampai niat untuk bersenang-senang dan menghilangkan kejenuhan malah menjadi sebuah mimpi buruk karena jatuh sakit atau kondisi tubuh tidak prima. Apalagi terlambat makan karena umumnya harga tiket LCC tidak termasuk kenyamanan fasilitas makan dan minum di dalam pesawat dengan gratis..

Bagaimana wisatawan yang berpenyakit maag bisa menikmati perjalanan menuju destinasi wisata yang diinginkannya ? Dokter Robert  Sinto, Sp.PD, Ahli Penyakit Dalam di rumah sakit Pelni, Petamburan, Jakarta, mengatakan kuncinya adalah memperhatikan pola makan selama melakukan perjalanan wisata apalagi mengikuti paket tour yang penuh dengan agenda kunjungan ke beragam obyek wisata.

“Pada prinsipnya, seorang penderita sakit maag dianjurkan untuk makan mengikuti pola 5-6 kali per hari, yaitu 3 porsi makan “besar”  yaitu sarapan – makan siang – makan malam dan 2-3 kali snack antara sarapan dan makan siang yaitu sekitar jam 10 pagi; snack sore sekitar jam 3 sore dan dapat ditambah snack malam sekitar jam 9,” kata penggemar traveling ini.

Jadi, tambahnya, makan dalam jumlah secukupnya dan jangan terlampau banyak makan dalam setiap kali makan. Terkait dengan penerbangan murah yang tidak menyediakan konsumsi, maka tipsnya adalah persiapkan makanan atau bekal mengikuti jam keberangkatan.

“Kalau  jam penerbangannya dalam kurun waktu jam makan maka persiapkanlah bekal atau snack. Namun jika mersa repot membawa makanan ringan bisa membeli di dalam pesawat. Tidak ada salahnya selalu mpersiapkan bekal berupa biskuit atau sejenisnya karena bagaimanapun tubuh manusia bukan mesin yg diberi makan mengikuti pola yg kaku..karena penderita maag tetap harus fleksibel mengikuti kondisi lapar  tubuh saat itu,” ungkap Robert Sinto.

Untuk penerbangan panjang yang memakan waktu sekitar 7 jam, sebaiknya pilih penerbangan regular yang memanjakan penumpangnya dengan menyediakan makanan dan minuman memadai.

“Jangan segan-segan meminta bantuan pramugari untuk mendapatkan snack sebelum waktu makan disajikann bila tiba –tiba Anda sudah merasa lapar begitu juga untuk minuman karena minum air yang cukup adalah aspek kesehatan lain yang harus diperhatikan selama berwisata,”

Hal yang sama juga harus diantisipasi setibanya di tempat kunjungan wisata karena akan ada dua skenario kondisi ekstrim yang mungkin dihadapi dan tidak menguntungkan bagi seorang penderita sakit maag, misalnya jadwal kunjungan yang demikian padat sehingga jam makan “ideal” terganggu.

Wisata kuliner biasanya menjadi kegiatan pelengkap atau bahkan jadi aktivitas utama bagi mereka yang suka berwisata namun memiliki penyakit maag. Selain memperhatikan porsi dan pola lebih sering makan hindari yang terlalu asam, pedas, serta bergas.

Dokter muda yang bersikap ramah serta terbuka pada pasien-pasiennya ini mengingatkan pula saat berwisata jangan suka berfikir aji mumpung serta memilih makanan  terlalu berlemak yang potensial menghambat pengosongan lambung.

“Pokoknya tetap harus menjaga pilihan makanan karena bila melanggar bisa membuat seluruh sisa perjalanan wisata tidak dapat Anda nikmati lagi. Pencetus maag terkadang individual, jadi sesuaikan pilihan jajanan,” tegasnya.

Minum kopi dan coklat sebaiknya dihindari karena jenis minuman ini merupakan pencetus sakit maag. Hal lain yg sering terlupakan adalah mereka yang memang dalam pengobatan untuk sakit maag nya tetap perlu membawa obat sesuai yang dianjurkan dokter dan rutin mengkonsumsinya.

:Jika Anda pernah sakit maag berat dan reda dengan obat tertentu yang pernah diberikan dokter maka obat itu wajib dalam daftar bawaan selama perjalanan wisata. Bukan tidak mungkin sulit untuk mendapatkan obat pereda nyeri perut-sakit maag di tempat tujuan wisata,” kata Robert Sinto.

Apabila nyeri perut timbul dalam perjalanan wisata, jangan ragu mencari pertolongan medis apalagi kalau obat yang biasa dikonsumsi tidak meringankan gejala. Nyeri perut jadi  penyakit serius yang timbul akibat makan kurang higienis selama perjalanan wisata seperti keracunan makanan, infeksi saluran cerna.

“Kebersihan makanan dan kebersihan tangan saat menyantap makanan dapat mencegah kambuhnya sakit maag akibat keracunan atau konsumsi makanan yg tidak higienis. Bagi penggemar hidangan laut, selalu pilih makanan yang segar yang  dimasak dengan baik,” tambahnya mengakhiri obrolan. ( hildasabri@yahoo.com).

 

 

LEAVE A REPLY