4 November – 11 Desember 2017, Jakarta Biennale 2017

0
49

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Dunia seni budaya kembali bangkit, kembali berunjuk gigi, kembali menggugah pencita seni. Memang, memahami seni budaya Indonesia tak bisa dilepaskan dari sejarah seni masa lampau. Bagaimana mungkin dapat memahami karya seni hari ini, jika tidak melihat apa yang sudah ada dan dibangun di masa silam.

Pemikiran itulah sebagai pijakan gelaran pameran seni akbar dua tahunan bertajuk Jakarta Biennale 2017, yang berlangsung pada 4 November hingga 11 Desember 2017. Jakarta Biennale 2017 digelar di sejumlah museum di Jakarta antara lain di Gudang Sarinah Ekosistem, Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Wayang, Museum Taman Prasasti dan Museum Tekstil.

Kerja sama dengan beberapa museum di Jakarta itu bertujuan untuk mempertemukan karya seni dengan lapisan masyarakat yang lebih luas. Sehingga event ini akan menjadi sesuatu yang berbeda dengan tema “Jiwa”. Jiwa sebagai tema yang diusung Jakarta Biennale 2017 merupakan landasan pertukaran pemikiran tentang berbagai isu dan pertanyaan atas seni dan budaya kontemporer.

Perbedaan Jakarta Biennale 2017 dibanding tahun-tahun sebelumnya, kini menyajikan sesuatu tidak biasa dan menampilkan sesuatu yang terintegrasi dengan koleksi masing-masing museum. Seperti gelaran tahun sebelumnya, kali ini juga akan tetap membuat kemudahan akses buat publik dalam mengapresiasi karya seni, dan membuatnya mudah dalam hal menyampaikan pesan

Jakarta Biennale 2017 dapat dimaknai sebagai daya hidup, energi dan semangat yang merupakan dorongan hakiki pada individu, kolektivitas, masyarakat, benda-benda dan alam. Kegiatan ini, mengupayakan pemahaman atas perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat melalui keragaman bentuk dan metode seni, persinggungan pemikiran dan tindakan serta gagasan dalam lingkup pendidikan.

Jakarta Biennale 2017 juga mengawali seri penerbitan buku untuk perkembangan penulisan-penulisan kritis tentang sejarah seni Indonesia masa kini. Serta beberapa hal yang akan dihadirkan diantaranya melalui berbagai jalur silsilah budaya, polemik yang pernah muncul pada tokoh dan peristiwa seni, serta kritik seni yang pernah ada baik yang terungkap maupun yang tersembunyi atau terlupakan.

Jika gelaran sebelumnya Jakarta Biennale menghadirkan karya 70-an seniman, tahun ini akan memilih 45 seniman, dari dalam dan luar negeri. Jumlah ini diputuskan atas beberapa pertimbangan, termasuk skala perhelatan pameran dan bujet.

Acara itu dirancang melalui kolaborasi antara Melati Suryodarmo yang bertindak sebagai Direktur Artistik, dengan Annissa Gultom, Vit Havranek, Philippe Pirotte dan Hendro Wiyanto serta didukung penuh Yayasan Jakarta Biennale. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY