4-29 November 2014, Tur Surabaya The Heroes City

0
2969
Hotel Majapahit Surabaya tempo dulu yang namanya Oranje Hotel

SURABAYA, test.test.bisniswisata.co.id: Surabaya Heritage Track (SHT) menggelar tur wisata tematik “Surabaya The Heroes City” atau Heroic Track untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah seperti Hotel Majapahit, Balai Pemuda dan Graha Wismilak.

Tur tematik ini, diselenggarakan pada periode-periode tertentu guna memperkenalkan berbagai bangunan kuno namun menarik serta memiliki nilai sejarah di Surabaya. Tur SHT dapat dinikmati oleh masyarakat maupun wisatawan secara cuma-cuma. Melalui berbagai tur SHT, trackers dapat menikmati berbagai bangunan cagar budaya serta mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru.

Menurut Rani Anggraini, tur Surabaya The Heroes City untuk mengenang semangat juang arek-arek Suroboyo dalam mengusir tentara sekutu yang hendak mengembalikan Indonesia kepada Belanda.

Jadwal tur pada Selasa – Kamis, 4 – 29 November 2014 pukul 09.00 – 10.30 dengan menggunakan bus SHT yang berangkat dari HoS menuju Hotel Majapahit kemudian ke Balai Pemuda dilanjutkan ke Graha Wismilak.

Hotel Majapahit menjadi saksi bisu perobekan bendera Belanda oleh arek-arek Suroboyo, Balai Pemuda dulu menjadi markas besar PRI (Pemuda Republik Indonesia). Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya turut memiliki peranan penting dalam sejarah revolusi nasional Indonesia sekaligus menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Pertempuran tersebut diawali oleh mendaratnya tentara Inggris atas nama blok Sekutu pada 25 Oktober 1945 untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Tentara Inggris juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda.

Hal ini kemudian memicu pergerakan perlawanan arek-arek Suroboyo terhadap tentara AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) dan pemerintahan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) hingga terjadi pertempuran 10 Nopember 1945.

Sekutu mengepung Surabaya dari segala penjuru dan menyerang dari darat, laut maupun udara salah satunya sektor utara seperti Lapangan Udara Morokrembangan, Koblen, Bioskop Sampoerna, Benteng Miring, Gedung Internatio, Badan Penanaman Modal dan Lindeteves.

Dalam serangan terhadap Bioskop Sampoerna, sekitar 100 orang pejuang yang berjaga di kompleks pabrik dan bioskop berusaha mempertahankan kawasan tersebut. Ketika pasukan Sekutu menyerang, sebanyak 7 orang meninggal. Mereka merupakan korban pertempuran pertama dari semua front pertempuran Surabaya. Karena mendapat tekanan dari pasukan Inggris, maka para pemuda terpaksa mundur ke kampung Pesapen dan viaduk di area Tugu Pahlawan.

Sedangkan Graha Wismilak adalah gedung PT Wismilak yang didirikan pada 1928, dulu dikenal sebagai Kantor Kepolisian Negara Darmo. Ini merupakan tempat gencatan senjata antara NICA dan Indonesia. Awalnya gedung ini difungsikan sebagai kantor polisi oleh Jepang. Pada 21 Agustus 1945, polisi istimewa Surabaya yang dikomandoi oleh Moh. Jasin memproklamirkan diri sebagai polisi Republik Indonesia dan gedung ini ditempati sebagai kantor polisi.

Terkait pertempuran 10 November 1945, arek-arek Suroboyo diultimatum untuk menghentikan perlawanan terhadap tentara AFNEI dan menyerahkan senjata rampasan dari Jepang di depan gedung ini. Ultimatum tersebut dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan perjuangan. Mereka menolak dan melanjutkan pertempuran.

Kegigihan arek-arek Suroboyo dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia itulah yang kemudian menjadikan Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan. (marcapada@yahoo.com)

LEAVE A REPLY