30 November-12 Desember 2017, Pameran Lukisan Keramik

0
65
Butet bersama karyanya lukisan keramik (Foto: Jayakartanews.com)

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Seniman Butet Kartaredjasa pertama kalinya memamerkan sekitar 138 karya visual mengambil media keramik yang dilukis. Cara seni seperti ini sengaja dilakukan Butet untuk melakukan kritik sosial terhadap masyarakat dan pemerintah. Pameran bertajuk “Goro-goro: Bhineka Keramik”, digelar di Galeri Nasional Indonesia Jakarta, pada 30 November-12 Desember 2017.

Dalam beberapa karyanya, seniman kelahiran Yogyakarta menyisipkan pesan-pesan moral tertentu yang dibungkus visual pameo dalam bahasa Jawa. Di antaranya, urip mung mampir ngguyu, ajining diri saka lathi, becik ketitik ala ketoro, dan kalimat menggelitik lainnya.

“Ini baru kali pertama saya melukis di atas keramik. Ini berbeda dengan studi seni keramik yang mempelajari tanah, pembakaran, eksperimen kekeramikan secara teknis, meriset bahan baku. Saya tidak ke situ,” ujar seniman serba bisa.

Butet mengatakan dia hanya menggunakan keramik sebagai pengganti kanvas dan mengikuti tahapan terciptanya warna. Karya-karya yang dipamerkan dibuat Butet dalam waktu tiga tahun terakhir, di antaranya berupa lukisan di atas keramik berbentuk persegi, oval, piring, lempengan tak beraturan, dan kolase potongan keramik.

Patung keramik, batu bata dari bangunan kota lama Semarang, serta instalasi seni berupa bingkai pintu kayu, juga turut dipamerkan.
Sejumlah karya penuh warna tersebut merupakan kritik, dari pegiat seni teater itu, atas masalah politik, sosial, budaya, agama, serta pandangan mengenai tokoh besar, seperti Gus Dur, Jokowi, Buddha, dan Yesus.

“Tukang kritik untuk saling mengingatkan, tidak mengkritik untuk memberi solusi. Akal sehat tidak mungkin membiarkan kebrengsekan berlangsung dan diamini semua orang,” katanya sambil menambahkan kritik dalam seni budaya adalah bagian penting dari kreativitas, bahkan jika sikap kritikal hilang, maka kreativitas pun demikian.

Butet juga menggambarkan Punakawan Unfriend Semar. Sebuah ilustrasi tokoh pewayangan yang pecah belah. “Ya kan zaman sekarang beda pilihan gubernur aja langsung di-unfriend,” ujarnya.

Diakuinya, lukisan punakawan di atas lempengan keramik tersebut pecah secara tidak sengaja. Namun, ketidaksengajaan itu justru memunculkan inspirasi. “Dari pecah jadi berkah,” ungkapnya santai.

Menurutnya, melukis di media apapun memiliki risikonya masing-masing. Keramik memang mudah pecah, namun kepingan-kepingan pecah itulah yang akan kita kumpulkan menjadi kebinekaan yang bermakna.

Butet memang pernah menimba ilmu seni rupa di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) pada 1978 hingga 1982. Ia sebenarnya juga berkarya sebagai perupa dengan membuat sketsa dan drawing untuk sejumlah media massa yang ada kala itu seperti Majalah HAI, Majalah Sastra Horison, Zaman, Topik, Sinar Harapan, Bernas, Minggu Pagi, juga Masa Kini. Butet juga menulis esai bertema sosial-budaya dan review seni rupa, selain aktif berteater yang kemudian lebih melekat pada dirinya

Kurator pameran, Wicaksono Adi menilai Butet menjadikan objek untuk membuka ruang refleksi atau kontemplasi diri agar dia dan orang lain dapat memandang kehidupan secara wajar, rileks, dan tidak hitam putih.

“Ini personal melihat sesuatu lebih intim. Butet Kartaredjasa melihat sesuatu ada dimensi lain, bisa begini juga bukan mengkritik terus. Lebih reflektif. Bagaimana seniman pada dirinya,” ucapnya. (NDIK)

LEAVE A REPLY