3 Februari 2018, Padi Reborn-Welcome Home Concert

0
147
Padi band (Foto: http://musikimia.com)

SURABAYA, Bisniswisata.co.id: Masih ingat Padi? Group musik asal Surabaya dengan anggotanya terdiri Ari Tri Sosianto, Andi Fadly Arifuddin, Surendro Prasetyo, Rindra Risyanto Noor, dan Satriyo Yudi Wahono alias Piyu, memang sudah lama fakum. Dan kini menggelar konser bertajuk “Padi Reborn-Welcome Home Concert” di Surabaya, pada 3 Februari 2018.

Now, Padi hadir kembali. Sobat Padi, sebutan fans fanatiknya maupun pecinta musik Padi kini bisa menyaksikan lagi band kesayangan yang terdiri dari Piyu (gitaris), Fadly (vokalis), Ari (gitaris), Rindra (bassis) dan Yoyo (drummer) setelah tujuh tahun vakum.

Setelah disibukkan dengan proyek masing-masing, kelimanya memutuskan untuk kembali berkarya bersama dengan nama Padi Reborn. Konser pertamanya digelar di The Pallas Jakarta, Rabu (31/01/2018) malam.

“Apakah kalian merindukan kami? Sungguh, kami juga,” Fadly akhirnya menyapa kerumunan penonton dan mengajak mereka berjingkrak-jingkrak sambil berkaraoke massal dengan lagu “Sang Penghibur”, “Lingkaran” dan “Perjalanan Ini”.

Padi membawakan sederet lagu-lagu hits yang liriknya sudah dihafal di luar kepala oleh para penggemarnya: “Mahadewi”, “Ternyata Cinta”, “Harmoni”, “Sesuatu Yang Indah”, “Bayangkanlah” hingga “Kasih Tak Sampai”.

Padi berkomitmen penampilan ini adalah awal dari kembalinya grup yang dibentuk saat para anggotanya masih jadi mahasiswa Universitas Airlangga. “Kami berlima berbeda, tapi berkomitmen bersama untuk kembali karena kami percaya persahabatan di atas segala-galanya,” kata Piyu.

Sebuah kejutan muncul di tengah pertunjukan. Semua anggota Padi meninggalkan panggung, digantikan oleh denting piano yang mengalun, mengiringi Rossa -mantan istri Yoyo- membawakan lagu “Rapuh”. Penonton semakin riuh, apalagi ketika semua anggota Padi kembali muncul dan Rossa berduet dengan Fadly dalam lagu “Semua Tak Sama”.

Perjalanan panjang

Dilansir Wikipedia, Grup musik ini memulai debut mereka di dunia musik Indonesia pada penghujung tahun 1990-an melalui singel Sobat dalam album kompilasi indie ten, dan dianggap membawa warna baru dalam dunia musik Indonesia. Jalur musik yang dipilih adalah pop-rock-kreatif. Pada awal kemunculannya, corak musik Padi sering dibandingkan dengan U2 dan Radiohead.

Motor utama grup ini adalah Piyu, yang menjalankan fungsi sentral sebagai komposer musik dan lirikus hampir seluruh lagu. Namun kekuatan utama Padi terletak pada penguasaan instrumen para personelnya yang memiliki karakter dan kemampuan teknis jauh di atas rata-rata musisi dalam berbagai band Indonesia.

Personel Padi diisi jawara berbagai kejuaraan instrumen musik. Selepas dalam kondisi vakum, Piyu memilih mengembangkan kreativitas sendiri, sedangkan personel lainnya membentuk Musikimia yang menjalani proses bermusik secara indipenden.

Dibentuk 8 April 1997, grup ini merupakan wadah kreativitas seni lima mahasiswa Universitas Airlangga, Surabaya. Semula bernama ‘Soda’, namun kemudian diganti menjadi ‘Padi’ (“Padi makanan orang susah,” demikian kata salah seorang personalnya).

Nama ini dipilih juga karena bersifat “sangat membumi”. Lebih jauh, mereka tidak hanya mengambil filosofinya saja, semakin berisi semakin merunduk, tapi juga melihat fungsinya yang melambangkan kesejahteraan. Diawali dari bermain musik dari satu panggung ke panggung lain, grup ini akhirnya dikontrak untuk masuk dunia rekaman.

Album-album Padi cukup sukses menembus pasar musik Indonesia. Beberapa pengamat menyimpulkan aransemen musik padi yg dinamis dan lebih kompleks dari rata-rata lagu oleh grup band Indonesia yang seangkatan adalah salah satu penyebab kesuksesan tersebut.

Pada awal kemunculannya pada tahun 1998 khasanah band Indonesia didominasi oleh lagu-lagu dengan aransemen sederhana dengan tempo sedang cenderung lambat. Ciri lain grup musik Indonesia pada masa tersebut adalah cukup dominannya instrumen keyboard pada band-band terkemuka. Karakter Keyboard/Organ memengaruhi gaya musik menjadi minim distorsi dan cenderung melodik.

Hal ini tampak pada band-band pencetak hits saat itu seperti Kahitna, Dewa 19 dengan album Pandawa Lima-nya, maupun Slank sesaat sebelum perombakan formasi di mana Indra Q masih tampil sebagai keyboardist.

Padi kemudian mendobrak dengan formasi tanpa keyboard melalui album pertama mereka Lain Dunia (1999). Formasi semacam ini membuat eksplorasi teknik permainan gitar begitu dominan, maka wajar jika lagu-lagu yang dihasilkan cenderung penuh ditorsi.

Apalagi ditunjang oleh gaya permainan dua gitarisnya, Satriyo Yudi Wahono (Piyu) dan Ari Tri Sosianto, yang berbeda satu sama lain, Padi mendobrak dengan lagu-lagu kompleks yang ditandai dengan aransemen dua gitar yang hampir selalu berbeda dalam tiap frasa dalam tiap lagu. Album ini mendapatkan platinum pada bulan April 2000 dan quadraple platinum pada tahun 2001.
Sesuatu Yang Tertunda

Pada tahun 2001, Padi mengeluarkan album kedua mereka Sesuatu Yang Tertunda. Album ini mampu terjual sebanyak 1,6 juta kopi dan mendapat 10x Platinum pada tahun 2002. Salah satu Album terbaik dan terfavorit sampai saat ini.

Save My Soul adalah nama album musik ketiga Padi. Album ini diluncurkan pada tanggal 18 Juni 2003. Dalam lagu “Sesuatu Yang Tertunda”, Padi berduet dengan musikus pujaan mereka, Iwan Fals.

Selain Iwan Fals, kolaborator lainnya yang terdapat dalam album ini termasuk musisi Australia yang merupakan pemain saksofon, Robert Burke dan pianis Kiernan Box, Adjie Rao (perkusi), dan penyanyi Astrid Sartiasari. Nasib album ketiga tersebut, meski tak bisa dibilang gagal, tapi tak segemerlap dua album sebelumnya.

Setelah lebih dari 2 tahun vakum dari dapur rekaman, Padi menggebrak dengan album baru Tak Hanya Diam. Album yang berisi 10 lagu ini tak lagi bertemakan ‘interpersonal’ (cinta) seperti 4 album sebelumnya, namun meluas menjadi kepedulian dari reaksi mereka terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitar.

Inti pesan dari lirik-lirik di dalam album Tak Hanya Diam terfokus pada soal tidak berfungsinya komunikasi yang berakibat beberapa bencana yang timbul secara beruntun di Indonesia. Seperti tsunami dan gempa bumi. Tak hanya temanya, peluncuran album ini juga cukup unik.

Padi meluncurkan album terbaru mereka dengan tampil menyanyi di atas geladak KRI Teluk Mandar 514 yang berlayar perlahan di perairan Teluk Jakarta, Senin 12 November 2007. Peluncuran album di atas kapal ini baru pertama kali dilakukan di Indonesia. Walau pada awalnya hanya ingin unik dari launching album secara konvensional, namun Padi kali ini memberikan isyarat kepada kita untuk selalu ingat bahwa negeri ini adalah negeri maritim dengan kekayaan dan keindahan laut yang dimiliki.

Selain itu, Padi juga mengenalkan logo baru mereka. Mereka mengaku perubahan logo ini hanya untuk lebih fresh saja, menghindari “kultus” logo Padi yang pertama karena Padi membuat logo bukan untuk membuat ‘laskar’.

Cover album Tak Hanya Diam mewakili tema dari album ini, cover yang berbentuk titik-titik saling berhubungan yang mencerminkan adanya saling sinergi satu sama lain didasari saling komunikasi untuk saling mengisi dalam damai. Di album ini juga terlihat keberanian Rindra (bass) dan Piyu (gitar) tampil sebagai vokalis di lagu “Belum Terlambat” dan “Jangan Datang Malam Ini”. (NDHYK)

LEAVE A REPLY