3 – 5 Agustus 2018, Dieng Culture Festival 2018

0
43
Dieng Culture Festival

BANJARNEGARA, bisniswisata.co.id: Dieng Culture Festival kembali bergulir. Event setiap tahun digelar, kini menampilkan berbagai macam atraksi wisata yang baru, unik dan menarik. Rangkaian acara berlangsung di kawasan Candi Arjuna Banjarnehara, pada 3 hingga 5 Agustus 2018.

Ajang Dieng Culture Festival (DCF) memang selalu menjadi lokomotif wisatawan untuk berkunjung. Pasalnya event ini memiliki daya tarik dan fenomena pariwisata yang begitu menarik dengan memadukan keindahan alam, keunikan kebudayaan dan tradisi di dataran tinggi Dieng.

Memasuki penyelenggaraan ke-9, festival Dieng menyuguhkan 16 sub event yang bisa dinikmati selama tiga hari penyelenggaraan. Ada pertunjukan musik Jazz Atas Awan ditengah suhu yang dingin. Tahun lalu, Jazz di Atas Awan menghadirkan musisi Anji dan Katon Bagaskara.

Bahkan ada ragam pertunjukan seni tradisi serta ritual budaya masyarakat asli suku Tengger dalam prosesi ruwatan khusus cukur rambut anak gembel. Selain itu, ada Festival Caping dan Bunga, pertunjukan sendratari, Ragam Pertunjukan Seni Tradisional, juga Kongkow Budaya. Juga ada Festival Kembang Api, Festival Tumpeng, Kirab Budaya, Pesta Lampion, hingga Pameran Produk Kreatif UKM dan Kuliner.

Berbagai event itu digelar usai salat Jumat (3/8/2018), dimajukan lebih awal, sejak pagi hari. Nantinya ada aksi Dieng Bersih mengajak semua warga Dieng, pelajar hingga tamu yang datang untuk membersihkan semua objek wisata. Yang mengambil paling banyak sampah atau yang paling kotor nantinya akan diberi apresiasi oleh panitia.

Setelah Dieng Bersih, akan dilanjutkan festival tumpeng. Untuk festival tumpeng, nantinya akan dikirab dan dimakan bersama oleh para pengunjung festival. Sedikitnya akan ada 50 tumpeng dari warga lokal yang akan dikirab mengelingi desa. Tidak hanya itu, puluhan tumpeng nantinya juga akan dimakan bersama-sama pengunjung DCF.

Setelah dikirab, tumpeng-tumpeng ini dibawa ke lapangan. Di sana akan dimakan bersama-sama sebagai wujud syukur warga. Tujuannya agar masyarakat terkena dampak pariwisata juga. Tumpeng merupakan salah satu syarat dilakukannya ruwatan potong rambut gimbal.

Sebelum ada Festival tumpeng ini, panitia dan tokoh adat di Dieng juga sudah menyediakan tumpeng sebelum ruwatan potong rambut gimbal. Dan sekarang tumpeng ini difestivalkan.

Ada acara yang unik dan menarik yaitu Festival Domba. Hal ini juga sebagai bentuk upaya merintis desa wisata lainnya sehingga bisa mengangkat agrowisata domba. Domba di dataran tinggi itu bulunya beda dengan yang lain,lebih tebal, kaya Shaun the sheep gitu loh. Dan sebagai sarana untuk memamerkan salah satu domba di dataran tinggi Dieng yang sudah menjadi ciri khas.

Tidak hanya itu, selama tiga hari, nantinya juga akan ada pameran bunga Calla lily. Bunga tersebut bisa ditemui di dataran tinggi Dieng. Rencanaya akan dijadikan festival bunga Calla Lilly juga untuk menambah atraksi, namun ada satu dan lain hal sehingga hanya akan di pamerkan selama acara berlangsung. Tidak hanya itu, nanti juga ada photo booth yang dihiasi bunga Calla Lilly.

Wisatawan dari berbagai daerah sudah memesan penginapan menjelang pergelaran Dieng Culture Festival. Bahkan, dari sekitar 200 homestay (rumah sewa) di Desa Dieng Kulon, sekitar 95 persen sudah dipesan wisatawan.

Bahkan ada lahan perkemahan (camping ground) yang bisa menampung lebih dari 500 tenda dan akan diupayakan ada penambahan jika belum mencukupi. Selain itu, wisatawan dapat menyewa kamar di rumah-rumah penduduk yang sementara ini belum dijadikan sebagai homestay namun siap disewakan.

Terkait dengan biaya sewa kamar di rumah-rumah warga, dia mengatakan pihaknya telah meminta kepada para perantara agar harga sewanya di bawah tarif homestay resmi. Kalau homestay resmi memang ada kenaikan sekitar 25 persen hingga maksimal 50 persen, misalnya yang biasanya Rp150 ribu per kamar bisa dinaikkan hingga tertinggi Rp225.000 per kamar. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY