29 November – 6 Desember 2018, Pameran Seni Rupa Memetri Kriya

0
73
Pengunjung amati hasil seni kriya di House of Sampoerna Surabaya (Foto: Bisniskini)

SURABAYA, Bisniswisata.co.id: Demi menjaga keaslian warisan budaya atau memetri sebagai identitas bangsa di tengah kemajuan teknologi, House of Sampoerna (HoS) bekerja sama dengan UNESA Jurusan Seni Rupa menggelar pameran seni rupa bertajuk “Memetri Kriya” di Galeri HoS Surabayang, pada 29 November 2017 hingga 6 Januari 2018.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Bisniswisata.co.id, Selasa (28/11/2017) menyebutkan Seni kriya, sebutan untuk karya yang penggarapannya sarat dengan ketrampilan tangan, kejelian, kesabaran, ketekunan ditambah mengandung nilai estetika yang tinggi dan imaginasi yang kuat, namun tetap fungsional dan menakjubkan.

Pada seni kriya, para Pande atau Kriyawan berkreasi dengan menggunakan teknik warisan leluhur, seperti karya kriya logam dengan teknik ukir menggunakan alat pahat ukir logam juga landasan jabung. Kriya keramik dengan teknik tekan, pilin dan bidang. Karya batik dengan menggunakan canting dan malam sebagai pewarna. Kriya kayu dengan teknik ukir menggunakan pahat ukir kayu.

Sayang seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, beberapa bahan maupun peralatan tidak dapat ditemukan dan harus diganti dengan peralatan modern. Namun untuk menciptakan karya beridentitaskan Indonesia, peralatan modern digunakan hanya sebagai penunjang. Ketrampilan tangan para Pande tetap merupakan modal utama penciptaan sebuah karya kriya.

Dalam pameran Memetri Kriya menampilkan 30 karya kriya dari 16 peserta dari FBS UNESA yang melibatkan mahasiswa, dosen pengampu juga alumni. Antara lain Achmad Nuries, Achmad Hozairi, Chrysanti Angge, Cokro Retantoko, Faisal Wilma, Fera Ningrum, Jafar Huda Cahyanto, Muchlis Arif, Muhamad Taufik, Nurul Dwi Injaya, Okiek Febrianto, Prastyawan, Singgih Prio, Sofia, Marwati, Sulbi Prabowo dan Wahyu Ferdiyan. Meraka ini memiliki keahlian seni kriya sesuai bidangnya.

Karena itu, pameran seni kriya diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa Jurusan Seni Rupa UNESA maupun para penikmat seni untuk terus menjaga, mempertahankan dan melestarikan warisan budaya leluhur melalui karya seni.

Saat menyaksikan pameran, kita bisa memaknai dan melihat penciptaan kriya berkonsep kekinian dengan tetap menjaga proses pembuatannya sesuai dengan warisan Pande leluhur. Misalnya karya Jafar Huda Cahyanto berjudul “Maha Atma” yang menggunakan logam wudulan dan endak-endakan yang diukir indah pada tembaga, beton eser dan kayu mahoni.

Tak kalah unik karya Singgih Prio Wicaksono berjudul “Konsumsikillme”, berupa pahatan dari kayu mahoni, sampah kemasan dan resin untuk mengkritisi budaya konsumerisme yang tumbuh pesat di masyarakat dan tanpa disadari merusak ekosistem.

Tak bisa dipungiri, arus kemajuan teknologi pada era milenial yang begitu pesat bukan menjadi pembenaran untuk ikut terseret dan menjauh dari identitas bangsa. Teknologi justru menjadi peluang dalam proses berkreasi, bukan untuk mendominasi dan menenggelamkan nilai-nilai tradisi yang telah tumbuh turun-temurun di masyarakat tradisional. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY