29 November – 2 Desember 2014, JIMFF di Museum Tekstil

0
1177

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Sebagai salah satu cagar budaya di kota Jakarta, Museum Tekstil Jakarta berupaya terus menggelar kegiatan untuk memperkenalkan hasil karya kain khas Indonesia seperti batik, tenun dan sulam yang bernilai tinggi. Menjelang penghujung tahun 2014, Museum Tekstil mengadakan kegiatan Jakarta Internasional Moslem Fashion Festival (JIMFF) 2014 mulai 29 November-2 Desember 2014.

“Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan inspirasi kepada generasi muda tentang produk wastra seperti batik, tenun, sulam, dan juga songket, karena tahun 2020 Indonesia akan menjadi kiblat fashion muslim,” kata Plt Kepala UP Museum Tekstil Jakarta, Imron, di Museum Tekstil, Jakarta, Sabtu (29/11/2014).

Dia berharap dengan kegiatan seperti ini bisa menarik minat para pengunjung untuk berwisata ke Museum Tekstil, dimana saat ini museum yang didirikan pada 1975 ini telah meraih museum terbaik dalam penilaian pelayanan publik.

“Museum Tekstil semakin diminati saat ini, karena di sini kelompok pencinta kain memanfaatkan untuk mengembangkan diri, selain itu juga menjadi tempat sarana edukasi dan kultural,” ujar Imron.

Sehingga, lanjut Imron, tak hanya sekedar menjadi destinasi wisata, Museum yang berdiri di tanah seluas 2 hektar ini menjadi sarana untuk pendidikan dini karena banyak program kegiatan publik dilakukan yang bisa diikuti para pengunjungnya.

“Kunci kekuatan museum itu, terletak pada edukasinya. Jika edukasinya benar, maka pengunjung akan kembali lagi, namun jika salah maka akan ditinggalkan pengunjungnya. Diharapkan Museum Tekstil tidak hanya mejadi milik Jakarta saja, tetapi milik nasional, dan dunia,” ujarnya.

Selain melakukan kegiatan yang edukasi, Imron menyatakan, di Museum Tekstil bisa ditemukan koleksi wastra berupa batik, tenun, sulaman dan kain songket, serta yang tidak kalah menariknya koleksi tertua adalah bendera Cirebon.

“Dengan harga tiket Rp5.000 pengunjung bisa mengikuti kegiatan-kegiatan temporer, melihat koleksi kain, alat tenun, perpustakaan, dan bagaimana tekstil dirawat,” jelasnya.

Museum Tekstil yang pendiriannya didasari kesadaran bahwa tekstil modern telah banyak menggeser tekstil tradisional Nusantara. Museum Tekstil hadir sebagai wadah untuk mendokumentasikan kekayaan dan ragam kain tradisional Nusantara. Adapun penggagas museum ini adalah Kelompok Pecinta Kain Tradisional Indonesia (Wastraprema), Ir. Safioen, selaku Dirjen Tekstil Departemen Perindustrian kala itu. Museum ini adalah rumah bagi sekira 1914 buah kain tradisional koleksi museum.

Gedung Museum Tekstil dulunya merupakan rumah pribadi seorang warga negara Perancis di abad ke-19. Setelahnya gedung ini berpindah kepemilikan karena dijual kepada seorang Konsul Turki. Selanjutnya, gedung ini ditempati oleh Karel Christian Crucq (1942); sempat pula menjadi markas BKR pada zaman perjuangan kemerdekaan; lalu dihuni oleh Lie Sion Phin (1947), menjadi Departemen Sosial; hingga kemudian ditetapkan sebagai museum.

Museum ini adalah satu-satunya Museum Tekstil di Jakarta dan pertama di Indonesia. Letaknya berada tak jauh dari Pasar Tanah Abang, tepatnya di Jalan Aipda K.S Tubun No. 2-4, Jakarta Pusat.

LEAVE A REPLY