23-24 Mei 2015, Teater KataK Tampilkan Kebun Ceri

0
775

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Teater KataK menampilkan produksinya ke-37 berjudul ‘Kebun Ceri’ pada 23-24 Mei 2015 di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Sutradara Venantius Vladimir Ivan mengadaptasi kisah tersebut dari naskah ‘The Cherry Orchard’ karya sastrawan Rusia, Anton Chekhov. Di dalamnya terdapat sentilan telak pada perilaku orang-orang yang tak lagi relevan dengan zaman.

Naskah The Cherry Orchard pertama kali dipentaskan di Moscow Art Theatre pada 17 Januari 1904. Mahaguru teater dunia, Konstantin Stanislavski, jadi sutradaranya. Walau Chekhov bermaksud menampilkannya sebagai kisah komedi, Stanislavski bersikeras untuk membawakannya sebagai tragedi.

Naskah ini merefleksikan kondisi sosial-ekonomi yang terjadi di Rusia pada saat itu. Pada 1861, terjadi reformasi emansipasi yang secara resmi menghapus status budak dalam Kekaisaran Rusia. Imbasnya, sekitar 23 juta budak mendapat hak untuk hidup sebagai warga negara yang bebas. Mereka bisa memiliki properti, mengelola bisnis, dan bahkan menikah tanpa harus meminta izin terlebih dahulu.

Ini membuat kaum bangsawan atau aristokrat terjepit. Perlahan, muncul kaum kelas menengah baru yang berhasil meraih sukses dengan kerja keras. Para aristokrat yang terbiasa hidup mewah dan bermalas-malasan mengandalkan status sosialnya pun terpaksa mesti menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Di awal abad ke-20, gerakan kaum sosialis terus menguat. Buruh mogok kerja dan berunjuk rasa menuntut keadilan dari pemerintahan tirani Tsar, entah soal jam kerja, upah, dan lainnya. Revolusi pun terjadi pada 1905 dan 1917 hingga mendorong terbentuknya Uni Soviet pada 1922.

Chekhov berusaha memotret masalah ini dan mengangkatnya dalam The Cherry Orchard. Kisah berpusar di sekitar tokoh Lyubov Andreyevna. Nasib buruk telah berkali-kali datang menghajar hidupnya. Suaminya meninggal karena terlalu banyak minum sampanye, anak bungsunya mati tenggelam di sungai, dan kini kebun ceri warisan keluarga mesti dijual untuk melunasi tumpukan utang.

Ia pun mesti beradaptasi. Dahulu, ia adalah aristokrat yang hidup serba ada. Kini, terpaksa ia hidup seadanya, atau seharusnya seperti itu. Di tengah segala keterpurukan, Lyubov tetap saja berfoya-foya. Yermolay Lopahin yang mulanya berniat membantu, ikut kewalahan melihat tingkahnya. Lyubov masih saja makan di restoran mahal, memberi uang emas pada gelandangan, atau bahkan mengadakan pesta dansa.

Di sini, Lyubov dan keluarganya adalah representasi kaum aristokrat yang hidup dalam ilusi masa lalu nan gemilang, dengan kebun ceri sebagai penandanya. Kebun ceri adalah awal dan akhir. Ia mengisi dan memberi arti dalam setiap detail kenangan masa kecil Lyubov. Ia adalah kebanggaan, juga harga diri. Kehadirannya jadi penanda kebesaran serta kejayaan Lyubov dan keluarganya. Karena itu selama kebun ceri berdiri tegak, harga diri Lyubov sebagai seorang aristokrat akan tetap terjaga.

Di Indonesia, tak jarang orang seperti Lyubov hadir dalam berbagai pemberitaan media massa. Orang-orang yang pernah mengisi jabatan penting dalam pemerintahan, atau bahkan artis yang telah pudar ketenarannya, bisa tiba-tiba muncul kembali dengan tindakan atau komentar nan kontroversial. Mereka tak sadar, mereka tak lagi relevan dengan zaman. Bukannya beradaptasi dengan kondisi sosial terkini, mereka kerap terjebak dalam kenangan megah masa silam dan berharap mendapat ruang gerak yang sama seperti dahulu. Mereka lupa untuk keluar dari zona nyamannya.

Di sisi lain, Teater KataK juga berusaha untuk keluar dari zona nyamannya dengan membawakan Kebun Ceri, sebuah naskah bergaya realis. Sebelumnya, mereka lebih sering membawakan naskah kolosal bernapaskan komedi. Ada Apakah Cinta Sudah Mati pada 2012, Perkawinan adaptasi Marriage karya Nikolai Gogol pada 2013, Dokter Gadungan adaptasi Le Médecin malgré lui karya Molière pada 2014, dan Benarkah Cinta Sudah Mati pada awal 2015.

Teater KataK resmi berdiri sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang, pada 12 Juni 2009. Kata “KataK” adalah singkatan dari Komunitas Anak Teater Kampus. Mereka mengusung moto “Berani melompat lebih tinggi melewati batasan yang ada”. Huruf “K” kapital di awal dan akhir KataK menunjukkan keseimbangan pada diri tiap anggotanya dalam menjalani dunia di dalam dan luar seni peran. ***

LEAVE A REPLY