22- 29 Oktober 2015, Pameran Batik Pamekasan

0
779
batik pamekasan Madura (Foto: http://beritadaerah.co.id)

SURABAYA, test.test.bisniswisata.co.id: Komunitas Batik Jawa Timur di Surabaya menggandeng House of Sampoerna (HoS) dan Pemkab Pamekasan menggelar pameran batik Pamekasan Madura, bertajuk ”Dibalik Selembar Kain Batik Pamekasan”. Pameran digelar di Galeri Seni HoS Surabaya, pada 22 Oktober hingga 29 Oktober 2015.

Dalam event tersebut dipamerkan kain-kain batik Pamekasan yang unik dan indah, juga menghadirkan kehidupan sehari-hari pembatiknya dari sisi sosial, ekonomi dan budaya. Pameran ini pertama kali digelar dengan tujuan untuk memperkenalkan, mempromosikan Batik Pamekasan Madura, Jawa Timur.

Pamekasan, sebuah kabupaten di Madura, adalah salah satu sentra batik terbesar di Jawa Timur. Hampir di setiap kecamatan terdapat sentra perajin batik seperti di Candi Burung, Toket, Nong Tangis, Podhek, Klampar, Banyumas, Kowel, Bedung, Toroan, Parteker dan Pandemawu. Masing masing daerah menghasilkan batik dengan karakter yang berbeda sesuai dengan geografi budayanya.

Batik Pamekasan memiliki warna-warna berani, keluar dari ’pakem’ seperti oranye, hijau menyala, ungu, kuning dan warna pop lainnya. Motifnya pun bebas, ekspresif dan tidak dibatasi oleh patokan yang mengikat sehingga batik Pamekasan berbeda dengan batik-batik pada umumnya.

Namun batik Pamekasan klasik memiliki pewarnaan yang cenderung mengarah kepada soga. Motif klasik tersebut terlihat pada motif Per Keper (kupu kupu) dan Tong Centong (alat tempat mengambil nasi), Melate Seto’or (rangkaian melati), Sabet Rantai, Kar Jagad dan Ngai Sungai. Mereka juga memiliki motif isen (motif isian pada batik) yang tidak dimiliki di tempat lain seperti Isen Mok Ramok (akar) dan Bek Tebek (berudu). Secara istilah atau kosa kata khas, mereka juga memiliki istilah khusus seperti gurik, yaitu teknik membatik lebih dari satu kali lorod.

Seiring perkembangan industri batik seperti hadirnya industri batik besar, memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan batik di Pamekasan dalam hal pewarnaan dan motif. Seperti pada beberapa tahun terakhir, terdapat sekelompok masyarakat yang mengadopsi teknik dan pola Hokokai, yaitu teknik pengerjaan yang sangat halus serta pewarnaan yang bervariasi, sehingga muncul istilah HOKOSAN (Hokokai Pamekasan).

Hokosan menjadi ikon baru diperbatikan nasional, khususnya di kalangan kolektor dan pecinta batik. Teknik halusan yang sudah jarang diikuti banyak orang justru berkembang di Pamekasan hingga saat ini.

Jadi batik Pamekasan merupakan salah satu potensi perbatikan di Indonesia yang dapat dikembangkan lebih baik. SDM yang andal dan kreatif menjadikan perajin batik Pamekasan mudah untuk dikembangkan. Namun juga diperlukan peran pemerintah dan para phak terkait agar tercapai tujuan untuk menjadikan Pamekasan sebagai sentra batik terbesar dari sisi kualitas, produksi dan desain batik di Jawa Timur. (marcapada2015@yahoo.co.id)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.