21-23 September 2015, Festival Duurstede di Maluku Tengah

0
1225

AMBON, test.test.bisniswisata.co.id: BERBAGAI tradisi Maluku yang hampir punah, kembali dihadirkan dalam kegiatan budaya bertajuk “Festival Duurstede” yang rencananya digelar di Desa Saparua, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, pada 21-23 September 2015.

Festival ini utamanya untuk menghidupkan kembali tradisi-tradisi di Maluku yang sekarang ini sudah mulai menghilang, bahkan banyak dari generasi muda, mungkin tahu tapi tidak bisa melakukannya.

Festival Duurstede yang digagas Yayasan Ambonesia, Komunitas M-Tree, PAPPRI Maluku, dan Wonderful Indonesia, akan digelar di sekitar lokasi berdirinya benteng yang menyimpan kisah sejarah perang Pattimura, Benteng Duurstede.

Dalam kegiatan itu akan dilaksanakan bermacam-macam lomba dari yang berakar dari tradisi dan kehidupan sehari-hari masyarakat Maluku, di antaranya mengayam keranjang tempat mengumpulkan hasil panen cengkih dan pala yang dikenal dengan istilah kamboti, dan lomba bale papeda atau memasak papeda, makanan khas Maluku yang dibuat dari tepung sagu.

Lomba bale papeda misalnya, walau hanya diseduh dengan air panas kemudian tepung sagu diaduk-aduk, tapi jika takaran air tidak sesuai, suhu air tidak di atas 100 derajat Celcius dan proses mengaduk tidak tepat, tepung sagu tidak akan mengental dan tercampur dengan benar.

Selain perlombaan yang berakar dari kehidupan sehari-hari orang Maluku, juga akan melombakan kesenian suling bulu (bambu) yang pada masa lampau digunakan dalam upacara-upacara adat maupun ibadah di gereja, namun sudah saat ini tidak ada lagi.

Mengingat Dulu sebelum terompet, saksofon, dan alat musik semacamnya masuk ke Maluku, suling bambu sangat populer digunakan dalam berbagai upacara, tapi kemudian diganti dan sudah tidak digunakan lagi hingga saat ini.

Festival yang pertama kalinya diharapkan menjadi agenda tetap tahunan, tujuannya untuk menjaring wisatawan mau datang ke Maluku.

Benteng Duurstede di pulau Saparua Maluku-Tengah, merupakan salah satu peninggalan sejarah jaman VOC. Benteng ini dibangun Portugis yang menjajah Maluku pada tahun 1676, kemudian direbut dan dimanfaatkan kembali oleh Gubernur Ambon Mr. N. Schaghen pada tahun 1691.

Benteng Duurstede ini dipakai sebagai pusat pertahanan dan pemerintahan VOC selama menduduki Saparua. Benteng ini juga menjadi saksi gigihnya perjuangan yang dipimpin seorang pejuang bangsa Indonesia yang sangat berpengaruh yaitu Kapitan Patimura, yang pada 16 Mei 1817 memimpin rakyat Saparua untuk menyerbu benteng Duurstede.

Jatuhnya benteng Duurstede membuat kedudukan VOC di Maluku dan Batavia goncang. Hal ini menyebabkan VOC berusaha kembali merebut benteng Duurstede.

Sampai saat ini, benteng Duurstede masih memliki bentuk yang utuh, dengan dikelilingi pemandangan yang indah. kalau dilihat memang benteng ini berada di posisi yang sangat strategis karena menghadap tepat ke arah laut, yang dilindungi oleh pegunungan. (marcapada2015@yahoo.co.id)

LEAVE A REPLY