2017, Tiga Program Kemenpar demi Mengejar 15 Juta Wisman

0
333
Wisman di Borobudur (Foto: beritadaerah.com)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia sepanjang tahun 2017 mencapai 15 juta orang. Target ini dianggap realitis mengingat capaian jumlah kunjungan wisman pada Januari hingga Oktober 2016 secara kumulatif sebanyak 9.403.614 wisman atau tumbuh 9,54% dibandingkan periode yang sama tahun 2015 sebanyak 8.584.832 wisman.

“Diproyeksikan akhir Desember 2016, target 12 juta wisman terlampaui, dengan estimasi tercapai kunjungan wisman pada November sebesar 1,3 juta wisman dan Desember 1,5 juta wisman. Karena itu, tahun 2017 kita pasang target sebanyak itu, ya semoga bisa tercapai,” papar Menteri Pariwisata Arief Yahya saat Jumpa Pers Akhir Tahun (JPAT) 2016 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, kantor Kementerian Pariwisata Jakarta, Rabu (21/12/2016).

Guna mengejar target itu, lanjut Menteri, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyiapkan tiga program prioritas yakni, digital tourism, homestay (pondok wisata), dan konektivitas udara. Selain program prioritas ada juga berbagai event di pusat hingga daerah, juga promosi publikasi di dalam dan luar negeri.

Dijelaskan, untuk meningkatkan kunjungan wisman secara signifikan digital tourism menjadi strategi yang harus dilakukan untuk merebut pasar global khususnya pada 12 pasar yang tersebar di 26 negara. Program digital tourism diawali meluncurkan ITX (Indonesia Tourism Exchange), yang merupakan digital market place platform dalam ekosistem pariwisata atau pasar digital.

“Pasar digital ini mempertemukan buyers dan sellers dimana nantinya semua travel agent, akomodasi, atraksi dikumpulkan untuk dapat bertransaksi. Kami berharap triwulan II/2017 sudah operasional 100 persen dan semua industri pariwisata sudah go digital,” harapnya.

Selain itu, diluncurkannya War Room M-17 di Gedung Sapta Pesona, pemantauan teknologi digital semakin mudah. Dalam ruangan tersebut terdapat 16 layar LED touch screen untuk memantau 4 aktivitas utama yakni, pergerakan angka-angka pemasaran mancanegara dan pemasaran nusantara, tampilan big data berisi keluhan, kritik, saran, dan semua testimoni baik negatif maupun positif.

Pusat intelejen ini menampilkan pergerakan wisman dan wisnus secara real time update termasuk data strategi untuk menghadapi kompetitor. Selain itu ditampilkan pula indikator positif maupun negatif mengacu pada Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) World Economic Forum (WEF) sebagai standar global, jelasnya.

Program prioritas kedua, sambung Menteri, program pembangunan homestay sebagai program pembangunan ‘desa wisata’ yang akan dimulai kembali tahun 2017 dalam rangka mendukung percepatan pembangunan 10 destinasi prioritas sebagai ‘Bali Baru’.

“Tahun 2017, kami menargetkan membangun 20 ribu homestay, tahun 2018 sebanyak 30 ribu, dan tahun 2019 sebanyak 50 ribu unit. Sebagai quick win pada triwulan I/2017 akan dibangun 1.000 homestay di 10 destinasi prioritas dan destinasi lainnya di antaranya Mandalika dan Borobudur masing-masing sebanyak 110 homestay,” ucapnya.

Program prioritas ketiga, yang dianggap paling strategis dan mendesak adalah pembangunan konektivitas udara. Mengingat sekitar 75 persen kunjungan wisman ke Indonesia menggunakan moda transportasi udara sehingga tersedianya jumlah kursi pesawat (seat capacity) yang cukup menjadi kunci untuk mencapai target tahun 2017 hingga 2019, ungkapnya.

Saat ini, lanjut dia, ketersediaan kapasitas seat sebanyak 19,5 juta oleh perusahaan maskapai penerbangan Indonesia dan asing hanya cukup menenuhi target kunjungan 12 juta wisman pada 2016. Padahal, target 15 juta wisman tahun 2017 membutuhkan tambahan 4 juta seat. Untuk target 18 juta wisman tahun 2018 membutuhkan tambahan 3,5 juta seat atau menjadi 7,5 juta seat, dan mendukung target 20 juta wisman pada 2019 perlu tambahan 3 juta seat atau menjadi 10,5 juta seat pesawat.

Ditambahkan, guna memenuhi tambahan 4 juta seat dalam mendukung target 15 juta wisman pada 2017, Kemenpar melakukan strategi 3 A (Airlines, Airport & Air Navigation Authorities). Strategi itu diawali dengan melakukan nota kesepahaman (MoU) kerjasama dengan perusahaan penerbangan Indonesia dan asing yaitu PT Angkasa Pura I & II dan AirNav Indonesia.

“Tujuannya utamanya bisa menambah direct flight (penerbangan langsung) berjadwal melalui pembukaan rute baru, extra flight, maupun flight baru dari pasar potensial serta pemberian incentive airport charge dan pengalokasian prioritas slot di sejumlah bandara internasional di Indonesia, serta promosi bersama dalam mewujudkan partnership action program untuk mendukung target pariwisata 2019,” sambungnya.

Dalam kesempatan itu, juga dilakukan panandatanganan Nota Kesepahaman tentang Promosi Pariwisata Indonesia oleh Dirut PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin dengan Ketua Umum PHRI Hariyadi B. Sukamdani disaksikan oleh Menpar Arief Yahya.

Dalam nota kesepahaman tersebut antara lain dilakukan kerjasama promosi bersama (joint promotion) untuk mempromosikan pariwisata dan perhotelan Indonesia kepada pasar internasional dan domestik di area 13 bandar udara yang dikelola oleh PT AP II; pertukaran data dan informasi; peningkatan frekuensi kunjungan wisman (inbound) ke Indonesia khususnya melalui bandara yang dikelola PT AP II, serta partisipasi pada event – event pariwisata dan perhotelan internasional maupun nasional/domestik. (endy)

LEAVE A REPLY