2016, Maskapai Indonesia Revisi Belanja Pesawat

0
997

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Perlambatan ekonomi dan tekanan terhadap rupiah yang semakin membebani laju bisnis tidak menghalangi belanja pesawat tahun depan oleh maskapai. Garuda Indonesia tetap akan mendatangkan 15 pesawat baru, Citilink 8 pesawat, dan Sriwijaya Air sebanyak 20 pesawat.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Arif Wibowo mengatakan, tahun depan, pihaknya akan mendatangkan 15 pesawat baru, di antaranya lima Airbus A330, satu Boeing 777, dan sembilan ATR 72-600. Untuk mendatangkan semua pesawat itu, pihaknya menerapkan skema operating lease guna meminimalisasi risiko keuangan korporasi.

“Tahun depan, pesawat kami tumbuh 15 unit. Sebanyak 80 persen menerapkan operating lease untuk meminimalisasi risiko. Soalnya kalau financial lease masuk dalam balance sheet Garuda, kemungkinannya terlalu berat untuk balance sheet,” ucap Arif, seperti diunduh laman Sinarharapan.co, Senin (28/09/2015).

Menurutnya, pesawat-pesawat baru itu digunakan untuk menambah rute maupun frekuensi penerbangan. Salah satu rute baru yang dirambah operator penerbangan pelat merah ini adalah rute langsung Shanghai-Denpasar. “Dari Shanghai tidak hanya ke Jakarta, tapi juga ke Denpasar,” ujarnya.

Namun demikian, apabila situasinya kurang mendukung untuk mendatangkan 15 pesawat sepanjang tahun depan, kemungkinan Garuda menunda setidaknya kedatangan tiga unit di antaranya. “Kami juga harus realistis mengantisipasi kondisi-kondisi ke depan. Kami harus menyesuaikan antara kapasitas dan demand-nya. (Bila kondisinya kurang mendukung), kami akan coba negosiasi untuk penundaan beberapa pesawat, dari 15 yang, mungkin akan kami penghitungkan untuk tiga dilakukan reschedule,” tuturnya.

Hingga akhir tahun ini, Garuda masih akan kedatangan dua pesawat bertipe berbadan lebar, yaitu A330 dan Boeing 777. Arif menjelaskan, kedua unit itu dijadwalkan datang pada November dan Desember 2015. Secara keseluruhan, Garuda mendatangkan 18 pesawat tahun ini. “Tahun ini, kami tetap berpatokan ke kesepakatan awal, yakni mendatangkan 18 pesawat,” ujar Arif.

Perseroan mengklaim mampu melakukan efisiensi hingga Rp 1,3 triliun atau sekitar US$ 95 juta sepanjang Januari-Agustus 2015. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra mengatakan, efisiensi itu berasal dari berbagai aspek. “Asalnya dari hedging, operation, marketing, capex, dan segalam macam,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, efisiensi yang dilakukan di luar keperluan bahan bakar (non-fuel). Terkait lindung nilai (hedging), perseroan hedging rata-rata sekitar US$ 50 juta per bulan untuk transaksi tunai. Harga hedging tersebut dianggap tidak terlalu tinggi. Garuda menargetkan dapat melakukan efisiensi hingga US$ 198 juta sepanjang tahun ini. Efisiensi itu dilakukan guna meningkatkan kinerja perseroan.

Terkait pelemahan nilai tukar rupiah, perseroan telah membuat stress case sampai nilai tukar rata-rata Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS). “Kami sudah buat stress case, rata-rata sampai Rp 16.000 masih positif. Dampak ke perusahaan tentu saja margin tertekan. Kami pada awalnya set satu number. Itu direvisi sedikit. tetap positif,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Utama Citilink, Albert Burhan menjelaskan, maskapai yang dipimpinnya akan memperoleh delapan armada baru berupa A-320 pada 2016. Nilai satu unitnya mencapai US$ 45 juta.

Hingga kini, anak perusahaan Garuda ini sudah memiliki 36 pesawat. Unit terbaru berupa A320 datang pada pertengahan September 2015. Citilink tetap berpatokan ke rencana tersebut, meskipun kondisi perekonomian tengah mengalami perlambatan dan kurs rupiah sedang melemah terhadap dolar AS. “Hingga sekarang, kami tidak ada rencana mengubah jumlah pesawat yang datang tahun depan,” ujarnya.

Albert menjabarkan, nantinya pesawat-pesawat yang mulai tiba pada Februari 2016 penggunaaannya berfokus menambah rute di wilayah timur, serta penambah frekuensi di wilayah barat Indonesia.

Senior Manager Corporate Communication Sriwijaya Air, Agus Soedjono mengungkapkan, pihaknya tetap berpatokan mendatangkan 20 Boeing 737-Max 8 dari pihak Boeing dan 20 Boeing 737-800 dari lessor sepanjang 2016-2017. “Meskipun kondisi perekonomian belum stabil, kami masih akan mendatangkan pesawat-pesawat itu,” katanya.

Ketua Penerbangan Berjadwal Indonesia National Air Carrier Association (INACA), Bayu Sutanto menjelaskan, kondisi perekonomian global saat ini sedang melemah. Karena itu, di pasar dunia, banyak pesawat-pesawat yang dibatalkan order ataupun sewanya.

“Untuk yang sudah telanjur kontrak pesawat dan tidak bisa ditunda, memang terpaksa menerima risiko utilisasi rendah atau malah sampai menganggur. Bisa saja maskapai-maskapai dengan lessor dan pabrikannya untuk reschedule delivery-nya,” ucapnya. (*)

LEAVE A REPLY