2016, Kecelakaan Pesawat di Indonesia Meningkat

0
904
Kecelakaan pesawat Batik Air dengan TransNusa di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur pada April 2016 (Foto: Okezone.com)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mencatat kecelakaan penerbangan atau moda udara paling banyak terjadi dibandingkan moda transportasi lainnya. Dalam kurun waktu Januari-November 2016, kecelakaan yang terjadi di sektor transportasi udara berjumlah 41 kecelakaan, dibandingkan tahun 2015 hanya terjadi 28 kecelakaan pesawat.

“Jumlah kecelakaan udara tahun 2016 ini terbanyak dalam kurun waktu 10 tahun terakhir sejak 2010. Dari 41 kecelakaan,15 di antaranya kecelakaan disertai dengan kerugian (accident) dan 26 lainnya yaitu kecelakaan tidak menimbulkan kerugian, namun merupakan kejadian yang sangat serius (serious incident). Akibat dari kecelakaan tersebut, lima di antaranya korban meninggal dan 57 luka-luka,” papar Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dalam konferensi pers “Media Rilis Akhir Tahun 2016” di Jakarta, Rabu (30/11/2016).

Dilanjutkan, KNKT juga menerbitkan 12 rekomendasi sebagai tindak lanjut dari investigasi kecelakaan dunia penerbangan. Berdasarkan lokasi kejadian, dia menyebutkan kecelakaan paling banyak terjadi di Pulau Jawa dan Papua. Faktor penyebab kecelakaan di Papua, karena perawatan infrastruktur yang belum optimal, misalnya “airstrip”. “Terutama masalah ‘airstrip’ yang saat ini memang belum sepenuhnya dikontrol Pemerintah. Saya sudah minta kepada Dirjen Perhubungan Udara untuk memperhatikan ini,” tandasnya.

Memang, lanjut dia, perawatan dasar “airstrip” juga harus diperhatikan, seperti sistem resapan air (drainase), pengarah angin (wind sock) dan lainnya. “Paling tidak rumputnya dipotong, kondisi yang minimal ini harus dipenuhi karena moda ini dibutuhkan oleh teman-teman di Papua,” katanya.

Ditambahkan, jika kecelakaan sektor udara sebagian besar atau sekitar 90% dari rekomendasi sudah dijalankan. “Untuk sektor laut, beberapa di antaranya juga sudah dijalankan untuk rekomendasinya. Rekomendasi-rekomendasi yang belum dijalankan itu, kami akan kirim surat lagi agar segera ditindaklanjuti,” ujar dia

Ketua Subkomite Kecelakaan Udara KNKT Kapten Nur Cahyo Utomo mengatakan faktor penyebab kecelakaan penerbangan paling banyak karena faktor manusia yaitu sebanyak 67,12 persen, teknis 15,75 persen, lingkungan 12,33 persen dan fasilitas 4,79 persen. “Untuk jenis kejadian yang telah diinvestigasi paling banyak itu tergelincirnya pesawat di landasan pacu atau ‘runway incursion’, sebanyak 40.09 persen” katanya.

Nurcahyo mengatakan rekomendasi juga telah diterbitkan, yaitu kepada operator pesawat udara atau maskapai (43,32 persen), Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (35,15 persen), Operator Bandara (1,14 persen) dan lainnya.

Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Kemenhub Muzaffar Ismail mengatakan pihaknya telah menempatkan sejumlah inspektor di Timika, Sentani, Nabire dan Wamena untuk melakukan pengawasan penerbangan. “Mereka cek semua ‘flight plan’ (perencanaan penerbangan), ‘weather plan’ (kondisi cuaca), baik untuk pesawat penumpang maupun kargo,” katanya.

Moda lainnya

Selain kecelakaan penerbangan yang menempati urutan teratas, KNKT juga melaksanakan proses investigasi terhadap 67 kecelakaan transportasi dalam kurun waktu Januari-November 2016. Jumlah tersebut meningkat sekitar 31% dari catatan sepanjang 2015 yang mencapai 51 kecelakaan terinvestigasi.

Adapun dari total 67 kecelakaan yang ditindaklanjuti itu, proses investigasi terbanyak dilakukan terhadap kecelakaan yang terjadi di sektor transportasi udara yang berjumlah 41 kecelakaan, sektor pelayaran 15 kecelakaan, perkeretaapian 6 kecelakaan, serta lalu lintas dan angkutan jalan (LLAJ) sebanyak 5 kecelakaan. (endy)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.