2015, Pertumbuhan Penumpang Pesawat Pesimistis

0
1219

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Asosiasi Penerbangan Sipil Nasional Indonesia (INACA) pesimistis pertumbuhan jumlah penumpang pesawat udara dapat mencapai dua digit hingga akhir tahun ini. Jumlah penumpang udara sepanjang tahun ini hanya tumbuh 8 persen, meski pun selama periode Januari – September 2015 pertumbuhan arus penumpang mencapai 16 persen.

Bayu Sutanto, Ketua Penerbangan Berjadwal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) mengatakan, pesimistis dengan pertumbuhan jumlah penumpang dikarenakan kondisi perekonomian yang tengah lesu. “Apalagi sekarang pemerintah mengurangi perjalanan dinas. Kebanyakan penumpang angkutan udara kita kan berasal dari PNS (Pegawai Negeri Sipil), baik pusat mau pun daerah,” kata Bayu di Jakarta, Rabu (4/11/2015).

Bahkan, arus penumpang angkutan udara pada kuartal IV/2015 juga tidak akan tumbuh terlalu tinggi, meski terdapat sejumlah hari libur. Ada kekhawatiran jika jadwal penerbangan berpotensi terganggu kabut asap. “Kami berharap pemerintah dapat memberikan jaminan gangguan penerbangan akibat kabut asap tidak akan terjadi lagi. Ada pun, para penumpang biasa memesan tiket pesawat untuk liburan pada dua minggu pertama November ini,” tuturnya.

PT Angkasa Pura II mencatat setidaknya 3.000 penerbangan dibatalkan akibat gangguan kabut asap selama kuartal III/2 015. Akibat gangguan kabut asap, PT Angkasa Pura II yang mengelola bandara di wilayah Indonesia barat mencatatkan kerugian hingga Rp20 miliar. Bandara yang terkena dampak paling besar antara lain Bandara Sultan Thaha Jambi dan Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Bahkan, Bandara Sultan Thaha sempat tidak beroperasi lebih dari satu bulan.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penumpang angkutan udara domestik periode Januari-September 2015 mencapai 50,4 juta orang, atau tumbuh 16,25 persen dari periode yang sama tahun lalu. Pencapaian jumlah penumpang angkutan udara tersebut menjadi tertinggi dalam tiga tahun terakhir ini. Adapun, jumlah penumpang angkutan udara internasional hanya tumbuh tipis 1,12 persen atau sebanyak 10,3 juta orang.

Jumlah penumpang terbesar tercatat di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, yakni sebanyak 14,2 juta orang, atau 28,27 persen dari total penumpang domestik. Lalu, pada posisi kedua ditempati Bandara Juanda Surabaya dengan jumlah penumpang 5 juta orang.

Di sisi lain, rendahnya pertumbuhan penumpang pesawat tidak menghalangi Lion Grup untuk menambah lima armada berbadan lebar (wide body) tahun depan. Pengadaan armada baru ini untuk mendukung kebutuhan penerbangan domestik atau internasional.

Rudy Lumingkewas, Direktur Utama Lion Air, mengatakan pihaknya memang ingin memperkuat rute domestik seperti Jakarta-Medan dengan pesawat wide Brody termasuk rute internasional ke Tiongkok. “Tetapi ini bisa jadi, bisa juga tidak, tergantung situasi,” kata dia.

Jumlah pesawat berbadan lebar yang dimiliki Lion Air mencapai tiga unit armada, yakni dua unit Boeing 747-400 dan satu unit Airbus 330-300 yang baru tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Adapun hingga akhir tahun ini, Lion Air akan kedatangan dua unit Airbus 330-300.

Rudy menjelaskan Lion Air tengah mengajukan proposal kepada pemerintah Tiongkok untuk membuka rute penerbangan dari Denpasar menuju kota besar di negeri itu, seperti Guangzhou, Shanghai, Nanjing dan lain sebagainya.

“Saat ini memang kami belum memiliki rute ke Tiongkok. Rencananya, mulai awal tahun depan. Kami ingin mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan pariwisata, dan menarik turis asing sebanyak-banyaknya,” tuturnya. Selain pesawat berbadan lebar, Lion Air juga bakal kedatangan 10 unit pesawat berbadan sedang atau narrow body Boeing 737 pada tahun depan. Adapun, biaya yang dikeluarkan mencapai US$ 700 juta hingga US$ 750 juta. (*/end)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.