20 – 22 April 2018, Wisata Budaya Seba Baduy

0
37
Warga Baduy membawa hasil panen menyemrakkan Seba Baduy (Foto: http://toptime.co.id)

SERANG, bisniswisata.co.id: Dinas Pariwisata Provinsi Banten kembali menggelar Prosesi budaya Seba Baduy. Event wisata budaya yang digelar setiap tahun, untuk tahun ini digelaar di Kota Serang Banten, pada 20 sampai 22 April 2018.

Seba Baduy tahun ini tidak akan kalah istimewa dengan tahun-tahun sebelumnya. Tidak hanya even seba saja yang bisa dinikmati, potensi alam Banten dan wisata sejarahnya menjadi paket lengkap bagi wisatawan ketika turut serta dalam prosesi budaya tahunan itu. Dengan Festival Exciting Banten on Seba Baduy, Banten akan mengangkat itu semua dan mengemasnya dengan baik.

Ribuan warga Baduy luar dan dalam berjalan kaki dari kampung halamannya memadati jalan-jalan utama menuju kota Serang. Rombongan disambut jajaran Muspida Pemkot Serang untuk melaksanakan tradisi Pesona Seba Baduy ke Kantor Bupati Lebak, Banten.

Dalam perjalanan, Warga Baduy luar dan dalam membawa aneka hasil bumi yang dipersembahkan kepada kepala daerah. Ini Tradisi tahunan milik adat yang berasal dari daerah Selatan di Kabupaten Lebak. Tahun ini tergolong Seba Gede (besar), diikuti lebih dari 2.000 lebih orang masyarakat suku Baduy baik dari Baduy Dalam maupun Luar.

Perayaan Seba sampai sekarang masih dipertahankan secara turun-temurun oleh masyarakat Baduy. Perayaan Seba tersebut merupakan bentuk silatuhrahmi masyarakat Baduy dengan kepala daerah yakni Bupati dan Gubernur sebagai “Bapak Gede” atau kepala pemerintah daerah.

Seba Baduy dilakukan setelah warga Baduy menjalani ritual kawalu selama tiga bulan. Ritual Kawalu berlangsung selama tiga bulan dan pada kurun waktu tersebut kawasan Baduy tertutup bagi wisatawan.

Seba Baduy merupakan upacara tradisi sakral warga Baduy yang tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Seba ini merupakan budaya yang sudah dilaksanakan secara turun temurun sejak zaman Kesultanan Banten.

Pesan moral yang disampaikan dari masyarakat baduy yakni menitipkan pesan kepada pemerintah untuk menjaga kelestarian alam, hutan dan lingkungan. Tentunya ini juga merupakan pesan moral untuk kita sebagai masyarakat Banten agar tetap menjaga kelestarian alam supaya terhindar dari bencana.

Tradisi seba baduy merupakan salah satu destinasi wisata budaya favorit yang dimiliki Provinsi Banten. Budaya itu semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan. Selaras dengan itu, keunikan masyarakat Baduy yang menjaga kuat tradisinya justru menjadi kekuatan bernilai jual wisata tinggi.

Malam harinya, semua masyarakat Baduy yang datang di kantor Bupati melakukan makan bersama dengan seluruh masyarakat yang hadir. Mereka duduk bersila dan makan ramai-ramai beralaskan daun pisang. Keunikan ini menjadi suatu momen tersendiri bagi masyarakat dan wisatawan yang hadir di lokasi acara.

Seusai ritual makan malam bersama, mereka berkumpul di aula untuk memberikan simbolis aneka hasil bumi. Acara dilanjutkan dengan dialog antara Pemkot dan warga Baduy yang lebih berisi penyampaian pendapat atau aspirasi warga Baduy kepada kepala daerah.

Warga Baduy atau disebut Orang Kanekes. Hidup di pedalaman lebak. Berprinsip meneguhkan adat istiadat warisan leluhur. Menentang modernitas lewat 1001 pantangan yang bertahan pun tidak banyak.

Mereka kini dikenal sebagai Baduy Dalam dan bermukim tiga kampung di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Rangkasbitung, Banten, Cibeo, Cikesik dan Cikertawana. Tanpa listrik, tanpa deru mesin dan tetap setia membentengi diri dari pengaruh dunia luar hingga saat ini.

Bagi yang tidak kuat harus menyingkir. Mereka dikenal sebagai Baduy Luar. Hidup berdampingan dengan Baduy Dalam dan masih menjalankan sebagian adat istiadat yang telah diwariskan oleh para leluhurnya.

Bagi orang Baduy tidak mengenal olahraga, bahkan bagi Baduy Dalam, kegiatan ini terlarang menurut adat. Namun bukan berarti fisik dan kesehatan orang Baduy meragukan. Apalagi untuk urusan jalan kaki, orang Baduy, utamanya Baduy Dalam mampu melakukannya berhari-hari.

Upacara Seba menjadi salah satu pembuktian ketangguhan fisik suku Baduy, terutama suku Baduy Dalam. Sebab dalam acara menjadi tradisi sejak Kesultanan Banten ini, mereka harus berjalan puluhan kilometer untuk bersilaturahmi dengan para pimpinan pemerintahan di provinsi Banten.

Seba merupakan tradisi kuno sama tuanya dengan suku Baduy sendiri. Menurut Kepala Desa Kanekes, Jaro Saija, dalam acara ini warga Baduy akan keluar kampung untuk bertemu dengan Bapa Gede. Dalam acara ini, mereka juga membawa hasil bumi berupa pisang, gula aren, beras, hingga laksa.

Prosesi upacara Seba suatu kewajiban yang harus dilaksanakan dan menjadikan ketetapan Lembaga Adat Masyarakat Baduy yang diterapkan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY