2 – 16 Oktober 2016, Hoyak Tabuik Piaman

0
932
Tabuik (foto: ihsanananda7.blogspot.com)

PARIAMAN, test.test.bisniswisata.co.id: Pesta tahunan “Hoyak Tabuik Piaman” kembali menggelora. Tabuik yang digelar pertama kali tahun 1826, memiliki makna sejarah dan budaya yang tetap dipertahankan, dilestarikan, digelorakan lantaran menjadi tulang punggung dan lokomotif wisata budaya sekaligus Tabuik milik masyarakat.

Tahun 2016 bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1 Muharram, kembali disajikan di beberapa titik seperti Rumah Tabuik Subarang, Rumah Tabuik Pasa, Lapangan Merdeka dan puncak kegiatan dipusatkan di Pantai Gandoriah Pariaman, pada 2 hingga 16 Oktober 2016 dan puncaknya pada 10 Muharram

Hoyak Tabuik Piaman diisi berbagai agenda ritual yang prosesinya diawali pawai 1 Muharram. Pawai akan dimulai dari halaman Balaikota Pariaman kemudian dilanjutkan dengan prosesi Maambiak Tanahyang bertempat di Pauh Galombang.

Selama 15 hari tersebut juga akan berlangsung berbagai ritual Tabuik dengan puncaknya Tabuik dibuang ke laut bebas di Pantai Gandoriah Pariaman.

Ritual tabuik dimulai dari Maambiak Tanah, kemudian dilanjutkan dengan Manabang Batang Pisangpada Kamis (6/10), Maradaipada Jumat (7/10), ritual Maatamdan Maarak Jari-Jaripada Sabtu (8/10). Maarak SorbanMinggu (9/10) dan terakhir ritual tabuik Naiak Pangkek Minggu (16/10).

Selain itu, berbagai atraksi budaya dan kesenian setempat digelar. Juga proses pembuatan tabuik dikerjakan di Rumah Tabuik Pasa dan Subarang. Juga ada Tabliqh Akbar dan zikir bersama, pertunjukan seni, serta beragam ritual pembuatan tabuik.

Di samping acara-acara yang sudah disebutkan di atas, Hoyak Tabuik Piaman 2016 mengadakan berbagai lomba seperti lomba pagelaran seni TK, SMA/SMK se-Kota Pariaman, lomba menyanyi dangdut dan melayu, lomba tari dan masih banyak lagi.

Pada saat ritual ini berlangsung, setiap ruas jalan di pusat Kota Pariaman akan dipadati oleh warga sekitar dan wisatawan. Mereka berebut ingin menyaksikan saat-saat bagian dari patung tabuik disatukan.

Dalam bahasa Minangkabau, “hoyak” secara sederhana dapat diartikan sebagai “mengguncangkan” atau “menggoyangkan”, karena dalam prosesinya ritual ini memasukan unsur mengguncangkan patung.

Patung tabuik akan dibuat oleh dua kelompok masyarakat yang berbeda yaitu masyarakat Pasa yang tinggal di sekitar Pasar Pariaman, juga masyarakat Subarang yang tinggal di seberang Sungai Pariaman atau sering disebut Kampung Jawa.

Setiap tahun, kedua kubu berusaha tampil semakin baik sehingga ketika keduanya berpapasan akan menjadi tontonan yang menegangkan. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY