150 Hotel di Bali Belum Terapkan Hemat Energi

0
1213
Made Sumatra (tiga dari kiri)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Sedikitnya 150 hotel di Bali belum menerapkan hemat energi. Hotel-hotel itu merupakan hotel usang yang pembangunannya saat itu masih tergolong murah, kebutuhan energinya tidak terlalu banyak dan harga energinya masih murah.

“Saat ini harga energi semakin mahal, tamunya juga semakin berkurang karena memilih hotel baru. Cost operasional jelas meningkat, bila tidak diantisipasi dengan penghematan energi maka hotel lama bisa gulung tikar. Ini yang tidak kita harapkan,” papar Made Sumatra, selaku Deputy General Manager Jakarta Setiabudi International, Tbk saat Seminar Schneider Indonesia bertajuk “Smart Building, Smart Saving” di Jakarta, kemarin.

Karena itu, lanjut Made, ada tim kecil hemat energi yang berkolaborasi dengan Schneider Electric akhirnya masuk untuk memberikan konseling agar hotel-hotel itu bisa menerapkan hemat energy. Ternyata mendapat sambutan luar biasa. “Sekarang ini tengah berjalan penerapan hemat energi, mulai hemat pemakain listrik, termasuk air,” paparnya.

Selain konsultasi, juga merancang solusi penghematan energi yang disesuaikan dengan kebutuhan hotel, hingga proses penerapan dan monitoring-nya. Solusi yang terintegrasi inilah yang sangat diperlukan untuk menghindari kerugian yang tidak diperlukan akibat inefisiensi penggunaan listrik. Dengan harapan hotel itu mampu mengelola finansial dengan lebih baik, jelas Made.

Penerapan hemat energi di kalangan perhotelan, tidak hanya dilakukan di kawasan wisata dunia, Bali. Namun juga di hotel Yogyakarta. Seperti Hyatt Regency Yogyakarta Hotel. “Kami siap memberikan konsulstasi bagi hotel-hotel lain di seluruh Indonesia yang ingin menerapkan efisiensi energi,” lontarnya.

Efisiensi energi yang diterapkannya dengan sistem seperti multi level marketing (MLM). Hotel yang menerapkan efisiensi energi wajib menyisihkan anggaran hemat energi untuk kebutuhan energi lainnya. Sehingga anggaran itu terus berputar, sambungnya.

Diakuinya, dengan keberhasilan yang sudah diterapkan di perusahaannya PT Jakarta Setiabudi International, Tbk maka ilmu dan manfaat itu disumbangkan ke perusahaan lain yang membutuhkan, seperti di hotel. “Memang perusahaan kami sangat peduli terhadap efisiensi energi telah membuat kebijakan energy management untuk semua properti yang dimiliki,” ucapnya.

Made menambahkan setelah berkolaborasi dengan Schneider Electric selama periode Januari-Agustus 2014, dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2013, perusahaan berhasil mencapai efisiensi konsumsi energi hingga sebesar 17%.

“Melalui kolaborasi dengan Schneider Electric, ke depannya kami berharap para pelaku usaha lain dapat turut tergerak untuk melakukan efisiensi energi pada bangunan mereka, sehingga manfaat dari efisiensi energi yang bisa dicapai dari penerapan solusi Smart Building ini akan dinikmati hasilnya,” tandasnya.

Vice President EcoBuilding PT Schneider Indonesia, Raymon Firdauzi menjelaskan untuk menciptakan efisiensi energi yang optimal di sektor bangunan tinggi, termasuk hotel dengan menawarkan rangkaian solusi berbasi teknologi informasi dan komunikasi yaitu smart building management system, light, dan room control serta life space.

“Kami memiliki layanan terbaru bernama energy sustainability tiered efficiency program atau energy STEP, yang manfaatnya sangat tepat bagi efisiesni energi,” paparnya.

Ferry Kurniawan, Marketing Manager Solution & Strategi EcoBuilding Schneider Indonesia, menambahkan kesadaran pengembang untuk menerapkan building management sebagai upaya melakukan efisiensi energi terus memperlihatkan pertumbuhan. Seiring dengan kondisi ancaman krisis energi yang ada saat ini.

Bahkan, lanjut dia, tarif listrik terus mengalami kenaikan setiap waktu. Sehingga dirasakan dampak langsung bagaimana biaya untuk energi sangatlah tinggi. Juga rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang akan direalisasikan dalam waktu dekat. ”
Berbagai kondisi yang ada, sambung dia, membuat kesadaran dari pelaku industri semakin memperhatikan penghematan pemakaian energi di dalam bangunan.

Salah satu produk dari Schneider, Smart Building Solution, dikembangkan untuk bisa membantu masyarakat dalam meminimalisasi pemakaian energi di dalam gedung. Dia mengklaim penghematan bisa dilakukan hingga 30% dari pemakaian normal.

Selain di gedung-gedung tinggi, produk ini juga umum dimanfaatkan pada proyek ritel, rumah sakit, bangunan komersial, apartemen, juga superblok.

Dengan penerapan teknologi tersebut, besaran pemakaian energi dapat dihitung dengan pasti. Keberadaan data itu dapat membantu perusahaan untuk mengetahui lebih lanjut langkah yang bisa diambil agar penghematan bisa lebih maksimal.

“Kalau di Indonesia penerapan seperti ini masih complicated bila dibanding negara lain. Kalau negara lain kan adaptasinya cepat dan ada insentif juga. Kalau di kita belum. Tapi kami harap keberadaan Peraturan Gubernur DKI Jakarta tentang Bangunan Hijau bisa menjadi landasan awal,” ungkapnya. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY