14 – 18 Februari 2018, Festival Pulau Penyengat

0
299
Masjid Pulau Penyengat dibuat dari kuning telur (Foto: LAKEY BANGE)

TANJUNGPINANG, Bisniswisata.co.id: Pulau Penyengat di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, bersiap menggelar Festival Pulau Penyengat yang diadakan pada 14 hingga 18 Februari 2018.

Selama lima hari, turis yang datang bisa menikmati lebih dari 20 kegiatan seni budaya di Pulau yang menarik untuk dikunjungi. Event itu antara lain lomba dayung sampan, lomba dayung sampan, lomba pukul bantal di laut, lomba nambat itik di laut, dan lomba becak motor hias.

Selain itu, ada pangkak gasing, syahril gurindam 12, membaca gurindam 12, pertunjukan wayang cicak, dan kegiatan klinik sastra.
Beberapa acara pendukung lain yang tak kalah menariknya ialah Fashion Malay Penyengat Syawal Serantau, Hunting Photography Penyengat Halal Competition, dan Short Film Netizen Penyengat Halal Competition.

Tujuan digelarnya festival tahunan ini menjaring turis nusantara sekaligus turis mancanegara di wilayah perbatasan dari Singapura, dan Malaysia. Mengingat, kedekatan budaya Melayu diharapkan bisa menjadi magnet kedatangan mereka yang tinggal di perbatasan. Tujuan lainnya memperkenalkan Pulau Penyengat sebagai pusat sejarah dan budaya Melayu.

Dari sekian banyaknya kegiatan, ada tiga acara unggulan yang akan menjadi atraksi paling menarik. Tiga acara unggulan ini yaitu Kompetisi Malay Fashion Carnaval, Parade Melayu dan Muslim Fashion, juga Bazar Melayu Fashion.

Kompetisi fesyen diadakan dengan tujuan menggali konten lokal Melayu. Peserta akan memamerkan pakaian dengan desain yang sarat atribut Melayu.

Pulau Penyengat memang menarik untuk dikunjungi. Turis yang menggemari wisata alam sekaligus sejarah pasti betah berada di sini. Pulau ini menjadi salah satu kebanggaan Tanjungpinang karena kaya situs bersejarah peninggalan Kerajaan Riau. Pulau yang dikenal dengan sebutan Pulau Penyengat Indra Sakti atau Pulau Penyengat Mas Kawin dan pernah menjadi pusat Kerajaan Riau-Lingga.

Berdasarkan sejarah, pulau ini merupakan tempat pertahanan Raja Kecil melawan serangan Tengku Sulaiman dari Hulu Riau pada tahun 1719. Kemudian, sejumlah benteng pertahanan dibangun pada tahun 1782-1784 untuk menghadapi perang melawan Belanda. Masjid Sultan Riau berdiri sejak tahun 1832 di Pulau Penyengat. Konon, masjid tersebut dibangun dengan campuran putih telur.

Tak jauh dari masjid ini, ada komplek makam Yang Dipertuan Muda Riau VII Raja Abdurrahman, Gedung Mesiu, serta Istana Kantor yang menjadi bangunan tempat tinggal raja pada tahun 1844-1857. Dari Tanjungpinang, Pulau Penyengat bisa dijangkau dengan menumpangi kapal. Durasi perjalanannya sekitar 15 menit dengan tarif Rp7.000 per orang. (Redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY