Wisman Kian Salahgunakan Visa Kunjungan Wisata

0
633

CIREBON, test.test.bisniswisata.co.id: Sebelas warga negara asing dari Denmark, Korea Selatan, Hongkong, Belgia, dan Tiongkok menyalahgunakan visa kunjungan wisata. Mereka datang ke Cirebon sebagai wisatawan mancanegara (Wisman), ternyata tak pulang-pulang ke negaranya malah bekerja.

“Mereka ditangkap karena tidak memiliki surat-surat keimigrasian yang lengkap, datang sebagai wisatawan namun disalahgunakan untuk bekerja di industri garmen, konstruksi dan perikanan,” papar Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Cirebon Jawa Barat, Eko Budianto, di Cirebon, Ahad (10/5/2015).

Eko mengatakan kebanyakan dari mereka menggunakan visa kunjungan wisata. Padahal, para WNA itu jelas-jelas menggunakan visanya untuk bekerja di Indonesia. Kesebelas WNA itu diketahui merupakan para pekerja profesional di sektor industri garmen, konstruksi, dan perikanan.

Saat ini mereka masih ditahan di kantor Imigrasi Kelas II Cirebon. Mereka kini diamankan di sejumlah lokasi, mulai dari Cirebon, Indramayu, dan Majalengka. “kami akan mendeportasi mereka jika tak bisa menunjukkan surat-surat keimigrasian yang lengkap,” ungkapnya.

Sebelumnya Rabu (29/5) seorang warga Australia ketahuan membuka usaha kafe minuman. Warga Australia bernama Cynthia Leuisa Pisera tinggal di Jalan Batur Sari dan hanya memiliki visa turis. Kepada petugas, Cynthia mengaku telah membuka usaha selama tiga tahun dan sudah memiliki sepuluh pekerja.

Selain Cynthia, tim gabungan yang dipimpin Kasi Ketahanan Seni, Budaya, Agama, dan Kepercayaan Kesbangpol I.B. Andika Putra mendapati beberapa pintu vila kediaman WNA tertutup rapat sehingga menyulitkan petugas melakukan pendataan.

Namun tim berhasil mendapati Richard James Conley asal Amerika, belum mengurus administrasi di kantor desa setempat dan hanya mengurus di Imigrasi Ngurah Rai. Ada juga Johanes Hermannus, WNA asal Belanda, yang menempati vila di Gang Jempiring. Dia memiliki kelengkapan surat-surat berkaitan dengan paspor dan kartu izin tinggal terbatas tapi belum melapor pada aparat desa setempat.

Denpasar kini rutin mengelar sidak terhadap Wisatawan yang menyalahgunkan visa kunjungan wisata. Diharapkan aparat desa dapat melakukan pendataan serta melakukan koordinasi dan komunikasi dengan Kesbangpol yang nantinya dapat menindaklanjuti keberadaan WNA di masing-masing desa.

Walaupun sebagai wisatawan, WNA yang tinggal lebih dari 1 x 24 jam di suatu wilayah harus melaporkan diri kepada aparat di desa/kelurahan sehingga tidak dianggap sebagai penduduk ilegal.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Bali I Gusti Agung Sudarsana mengakui banyak wisatawan asing di Bali yang menyalahgunakan visa kunjungan. Mereka menggunakan visa kunjungannya untuk bekerja di Pulau Dewata.

“Informasi yang diperoleh mengatakan banyak wisatawan asing yang bekerja di Bali menggunakan visa kunjungan. Kami akan berkoordinasi dan bekerja sama dengan pihak imigrasi untuk memantau wisatawan asing yang datang ke Bali,” kata Sudarsana di Denpasar, belum lama ini.

Dilanjutkan, pihaknya akan meminta data orang asing itu kepada pihak imigrasi. Hal ini untuk mengetahui status visa para wisatawan asing tersebut. “Pihak imigrasi tidak memungkiri bahwa memang terjadi penyalahgunaan visa kunjungan untuk mencari kerja di Bali. Jika orang asing ingin bekerja di Bali wajib untuk mengantongi visa kerja, bukan menyalagunakan visa kunjungan. Ini tidak sesuai dengan fungsinya,” tegas Sudarsana.

Selain visa kunjungan, wisatawan asing juga menyalahgunakan Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) untuk mencari pekerjaan. Bagi Sudarsana, hal itu juga harus ditindak tegas. “Banyak orang asing yang ‘nakal’ menyalahgunakan visa kunjungan dan KITAS untuk mendapatkan pekerjaan. Kita harus tegas untuk meminimalisir penyalagunaan tersebut,” ucap dia.

Kebijakan tersebut, kata dia, tak akan berjalan tanpa ada peran serta dari masyarakat. Karena itu, ia meminta masyarakat menyampaikan informasi bila menemukan hal tersebut. “Pasalnya, efektifitas kerja kami tidak akan maksimal tanpa peran serta aktif dari masyarakat. Peran masyarakat sangat berperan penting,” tukas Sudarsana. (berbagai sumber)

LEAVE A REPLY