10 Destinasi Wisata Prioritas Digencarkan, Bali Alami Kegamangan

0
347
Bali masih jadi daya tarik utama wisatawan (Foto: shutterstock.com)

NUSADUA, test.test.bisniswisata.co.id: Ketua BPD Perhimpunan Hotel&Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati menilai ketika pemerintah gencar mendorong 10 destinasi wisata prioritas atau dikenal dengan ‘Wisata Bali Baru’, justru Bali mengalami kegamangan bahkan kerancuan. Apalagi pemerintah optimistis mampu mendatangkan 20 juta wisatawan pada tahun 2019.

“Karena sampai saat ini kami belum melihat konsep detil plan tentang rencana pembangunan pariwisata Indonesia. Di Bali, kami mengalami hal rancu. Dulu konsep pariwisata budaya. Sekarang pembangunan melemahkan budaya Bali,” papar Ardhana saat Rakernas PHRI di Nusa Dua Bali, Kamis.

Saat ini, sambung dia, Bali justru mengacu pada pembangunan yang telah dilakukan oleh Singapura dan Hong Kong. Pada saat yang sama, konsep pembangunan itu menggerus kearifan lokal yang sekian lama terjalin di Bali. “Kita berorientasi pembangunan Singapura dan Hong Kong. Kita meninggalkan kearifan lokal. Kita harap saran Pak Menteri agar Bali tak meninggalkan itu, sekaligus menunjukkan kebhinekaannya,” tandasnya.

Padahal salah satu hal yang menarik minat wisatawan ke Indonesia adalah keindahan alamnya. Kebhinekaannya, juga salah satu daya tarik, namun kini malah berubah total. “Terus terang di Bali, kami mengalami hal rancu. Dulu konsep pariwisata budaya. Sekarang pembangunan melemahkan budaya Bali,” lanjutnya.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli mengaku heran dengan kenyataan bahwa Bali lebih terkenal dari beberapa destinasi wisata di Indonesia. “Waktu saya ditunjuk sebagai Menko, saya pelajari. Kok bisa, Indonesia indah sekali, budget pariwisata setiap tahun ada, lumayan besar, kok yang menonjol hanya Bali? Yang lain nyaris nggak ada yang menonjol,” kata Rizal.

Rizal Ramli juga menjelaskan bahwa dengan kondisi tersebut pihaknya langsung mempelajari dan mengevaluasi. “Ternyata setelah kami pelajari, budget setiap tahun dibagi 60 sampai 80 lokasi pariwisata. Sehingga, yang kecil (budget) sini, di sana, dan impact-nya nyaris tidak ada, karena tidak cukup sumber daya, membangun infrastruktur dasar,” papar Rizal Ramli.

Akhirnya dilakukan strategi baru, yaitu dalam lima tahun pertama, sektor pariwisata fokus pada 10 destinasi baru. Dengan demikian, tambah Rizal, akan bisa membangun infrastruktur dasar seperti bandara, marina, akses jalan, telekomunikasi dan lainnya yang mendukung sektor pariwisata.

Menurutnya, potensi pariwisata di Pulau Dewata, masih bisa dikembangkan. Hanya saja, perlu pengaturan yang tepat dan terarah. “Untuk daerah Bali bagian selatan itu, sudah crowded (ramai). Sementara, Bali Utara masih kosong,” kata Menko Rizal.

Namun begitu, tambah dia, tak bisa menyatakan Bali bagian utara layak untuk dikembangkan sebagai kawasan pariwisata. Lantaran, dikhawatirkan berdampak kepada aspek sosial dan lingkungan. Dalam hal ini, pemerintah daerah beserta tokoh adat di Bali perlu berembuk. “Kalau kita kembangkan Bali utara, nanti rusak lingkungannya dan tata budayanya. Atau, kita biarkan saja Bali utara, supaya heritage dan tata budayanya tidak berubah,” ucap Rizal.

Untuk itu, Rizal mempersilakan hal itu ditentukan oleh tokoh-tokoh Bali. Jika diputuskan untuk dibangun sarana pariwisata, maka itu bukan perkara sulit. “Kalau mau dibangun cepat sih sebetulnya. Kita bangun airport dan akses road. Tapi itu tokoh-tokoh Bali yang harus tentukan mau dibawa ke mana Bali ini. Apakah mau dikomersilkan Bali utara seperti Bali selatan atau mau di- maintanance. Banyak juga sebetulnya yang mau kembangkan Bali utara,” ungkap Rizal.

Menurut Rizal, harga tanah di Bali Selatan dan Utara, memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Jika di Bali Utara dibangun fasilitas seperti bandara, atau di kembangkan seperti di selatan, bisa dipastikan harga tanah di utara bakal melompat sampai 20 kali. “Apakah itu yang memang diinginkan Bali. Makanya tokoh di Bali kumpul dulu apa sebenarnya yang diinginkan,” tandasnya. (*/a)

LEAVE A REPLY