10 – 11 Februari 2018, Pertunjukkan Drama Komedi Nonton Capgome

0
26
Suasana pertunjukan drama komedi berjudul Nonton Capgome

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Merayakan Imlek sekaligus mengangkat kembali bahasa Melayu Tionghoa yang pada masanya telah menjadi linguafranca tidak hanya Indonesia namun juga di Asia Tenggara, Kelompok Pojok mempersembahkan pertunjukkan drama komedi berjudul “Nonton Capgome”. Pertunjukkan ini digelar di Gedung Graha Bakti Budaja, Taman Ismail Marzoeki, Jakarta, pada Sabtu tanggal 10 Februari 2018 pukul 19.30 wib serta Minggu 11 Februari 2018 pada pukul 16.00 wib.

Sekitar 130 pemain juga pemusik serta didukung para seniman Bulungan Jakarta Selatan, mementaskan sebuah naskah kuno yang berjudul Nonton Capgome. Sebuah naskah yang ditulis pada era tahun 1930-an oleh seorang sastrawan sekaligus wartawan yang revoluisoner pada masanya yaitu Kwee Tek Hoay.

Acara juga didukung penuh Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (ASPERTINA) serta Yayasan KOCI Jakarta ini, disutradarai Tamimi dan Yasya Arifa. Sutradara muda ini mempersiapkan pertunjukkan selama hampir 1 tahun. Dengan rincian selama enam bulan pertama Kelompok Pojok yang sehari-harinya bermarkas di Bulungan, Jakarta Selatan ini melakukan riset mengenai sejarah masuknya orang-orang Tionghoa di Indonesia,

Juga bagaimana tradisi adat dan istiadat peranakan Tionghoa di Indonesia bahkan risetpun dilakukan sampai ke kawasan cina Benteng Tangerang, Semarang, Glodok Jakarta juga kawasan Pancoran Jakarta. Selain itu ingin mengetahui banyak bagaiaman sih kondisi real memperingati Cap Go Me usai perayaan Imlek.

Memang, ada perbedaan serta pergeseran nilai memeriahkan acara tradisional Cap Go Me ini di berbagai daerah. Sayangnya kini jarang dimeraihkan kecuali yang masih banyak daerah yang mayoritas ada warga Tionghoanya seperti Singkawang, Semarang, Bogor. Selain itu peringatan Cah Go Me banyak dimeriahkan di hotel-hotel atau restoran Chinese yang dikaitkan dengan kuliner China.

Pertunjukan dengan genre drama komedi selama 2 jam lebih ini, akan terasa berbeda daripada pertunjukan lainnya karena semua bahasa yang digunakan masih menggunakan bahasa melayu passer atau melayu tionghoa peranakan, yang memang populer pada tahun naskah ini dibuat namun tidak menghilangkan esensi dari cerita aslinya, sehingga penonton di era milenia sekarang ini masih dapat mengerti akan ucapan semua pemain tersebut.

“Memainkan naskah ini tentu sudah kami pikirkan sejak lama. Kami ingin agar generasi saat ini tahu bahwa dulu bangsa ini juga memiliki bahasa melayu passer, bahasa yang telah menjadi pemersatu bangsa tidak hanya di negeri ini, tetapi juga di kawasan asia tenggara. “ Jelas Tamimi dan Yasya Arifa sang Sutradara.

Tamimi dan Yasya melanjutkan alasan lainnya dari pada semua itu adalah mereka ingin mengatakan para keturunan Tionghoa pada saat itu mengaggap diri mereka bukanlah bangsa lain, melainkan satu yaitu Indonesia.
Mereka ingin kesalahpahaman yang selama ini ada dan tertanam dalam benak masyarakat “pribumi” tentang “ cina ” berubah, karena ini memang devide et impera warisan kolonial.

“Kami hanya ingin bangsa ini menjadi tunggal ika di dalam kebhinekaannya. Bahwa mereka juga adalah kita yaitu Indonesia dan tidak ada yang membedakan antara kita dan mereka. Itu spirit kami dalam menggarap pertunjukan ini yang juga dalah spirit sang penulis itu juga,” sambungnya sambil menambahkan rencananya setelah pentas di Jakarta ada permintaan pentas di Singkawang Kalimantan Barat.

Pentas Drama Komodi ini mengerahkan sekitar 150 orang lebih, mayoritas pemainnya adalah seniman teater juga pelajar SMA di Jakarta yang kerap bermain teater, juga ada dua orang pemusik Tionghoa yang memainkan alat musik petik Erau dan gesek Zhong Ruan serta Yuzheng, yakni Enis Agustin serta Anes Guo. Bahhan didukung penampilan Barongsai. (NDHYK)

Ajoe kita saksiken pementasan ini pada :
Pementasan Hari ke- 1
Hari / Tanggal : Sabtu 10 Februari 2018
Waktoe : 19.30 wib atawa ba’da Isya
Lokasi : Gd. Graha Bakti Budaja, Taman Ismail Marzoeki

Pementasan Hari ke- 2
Hari / Tanggal : Minggu 11 Februari 2018
Waktoe : 16.00 wib atawa ba’da Ashar
Lokasi : Gd. Graha Bakti Budaja, Taman Ismail Marzoeki

Harga Tiket Masuk :
VIP : Rp 200.000
Regular : Rp 150.000
Balc : Rp 75.000

LEAVE A REPLY