1-6 Desember 2014, The 9th Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF)

0
720

YOGYAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: JAFF sebagai sebuah festival film bertaraf Internasional yang berfokus pada sinema Asia, kembali digelar pada 1 – 6 Desember 2014 di Yogyakarta. Pada pelaksanaan yang ke-9 ini, tema yang diangkat adalah “Re-Gazing at Asia” (Menatap Ulang Asia).

Festival film ini pertama kali digelar pada 2006 atas inisiasi dari tokoh-tokoh yang tak asing di dunia sinema seperti Garin Nugroho, Budi Irawanto, Philip Cheah, dan Ifa Isfansyah. Tahun ini, pelaksanaan festival diselenggarakan di beberapa lokasi yaitu Empire XXI, Taman Budaya Yogyakarta, Bentara Budaya Yogyakarta, dan empat desa di Yogyakarta: Giriloyo, Nitiprayan, Sidoakur, dan Banyusumilir.

Re-Gazing at Asia diangkat sebagai tema The 9th Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dalam rangka menggarisbawahi peran penting para sutradara dan produser perempuan yang membantu publik memandang-ulang Asia lewat sentuhan afeksi serta dijiwai oleh semangat kesetaraan.

“The 9th Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) tak hanya menggarisbawahi munculnya sutradara perempuan Asia, tapi juga meneguhkan pentingnya perspektif ‘perempuan’ dalam memandang persoalan perempuan dan jagad sosial melalui lensa sinematik.” ungkap Budi Irawanto dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi test.test.bisniswisata.co.id, Senin (24/11/2014).

“Karenanya, ‘Re-Gazing at Asia’ (Menatap Ulang Asia) dipilih sebagai tema JAFF tahun ini yang menegaskan keniscayaan melihat Asia dengan melawan cara pandang stereotipikal, patriarkis dan cenderung menguasai pihak lain.” Lanjut pria yang menjabat sebagai Festival Director ini.

Meskipun film pembuka festival ini, Like Father Like Son, disutradarai oleh sineas laki-laki Jepang, Hirokazu Koreeda, namun film ini berkutat pada masalah keluarga di ranah domestik yang selama ini secara stereotipikal dianggap ranah perempuan.

Sebagai penutup akan ditayangkan film Snowpiercer (Bong Joon-Ho), yang merupakan bagian dari spesial program bertajuk Glimpe of Current of Korean Cinema, hasil kerjasama dengan Korean Cultural Center (KCC). Selain film tersebut, selama festival berlangsung akan ada 2 film peraih box office di Korea Selatan lainnya yang akan ditayangkan.

Secara keseluruhan, ada 75 film dari 18 negara yang berpartisipasi di The 9th Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) kali ini. Film-film tersebut akan diputar dalam program-program utama festival ini yang terdiri atas:

ASIAN FEATURE
Adalah pemutaran sekaligus kompetisi bagi film-film panjang Asia. Program ini menganugerahi Golden Hanoman, Silver Hanoman, dan Geber Award bagi film panjang terbaik Asia.

LIGHT OF ASIA
Program khusus untuk penggiat film-film pendek Asia baik eksebisi maupun kompetisi. Award untuk kompetisi ini adalah Blencong Award.

ASIAN IN FOCUS
Memilih film-film dari suatu negara di Asia yang memiliki pencapaian yang layak dicatat, lalu itu dan memutarnya untuk memberikan apresiasi yang tinggi. Serta tak ketinggalan mengundang pelaku film dari negara tersebut untuk diskusi dengan para penggerak film Indonesia. Jepang adalah negara yang terpilih untuk program Asian in Focus tahun ini.

INDONESIAN CINEMA
Program pemutaran khusus film-film Indonesia sebagai ruang apreasiasi atas film-film Indonesia yang tidak mendapat jalur distribusi mainstream dan film-film Indonesia yang menjadi representasi tema penyelenggaraan JAFF.

STUDENT AWARD
Merupakan sebuah program yang baru di pelaksanaan tahun ini, di mana pada program ini memberikan kesempatan pada para mahasiswa untuk turut menonton film-film yang dikompetisikan, kemudian memberikan penilaian secara argumentatif untuk kemudian diwujudkan dalam bentuk penghargaan berupa Student Award ini.

Jajaran juri yang terlibat dalam penyelenggaraan tahun ini terbagi atas empat kelompok, yaitu: Juri JAFF (Hanung Bramantyo, Olin Monteiro, Makbul Mubarak), Juri NETPAC (Yosep Anggi Noen, Francis Joseph Cruz a.k.a Oggs Cruz, David Hanan), Juri Film Komunitas (Astu Prasidya, Bambang Kuntoro Murti a.k.a Video Robber, Alia Damaihati), dan Juri Film Pendek (Kamila Andini, Osamu Minorikawa, Derek Tan).

JAFF menawarkan pula kegiatan-kegiatan khusus yang tak kalah menarik, seperti:

OPENING/CLOSING NIGHT
Malam pembukaan dan penutupan yang dikemas berbeda dan spesial karena beberapa kesenian lokal akan dihadirkan sebagai pengisi acara.

PUBLIC LECTURE
Merupakan salah satu karakter JAFF yang tidak melulu fokus pada pemutaran film, namun juga diselenggarakan forum diskusi/seminar tentang sinema Asia dan Indonesia.

OPEN AIR CINEMA
Kegiatan ini adalah menyelenggarakan pemutaran film di beberapa desa di sekitar Yogyakarta, dengan cara mendirikan layar tancap. Sehingga film-film populer yang menghibur rakyat pada kegiatan ini akan langsung menyapa penduduk di empat desa yang telah dipilih tahun ini.

COMMUNITY FORUM
JAFF tumbuh dan besar karena kekuatan komunitas, karenanya disetiap
penyelenggaraannya JAFF selalu mengundang komunitas film dari berbagai daerah untuk saling berinteraksi dan mempresentasikan perkembangan komunitasnya.

FESTIVAL CORNER
Festival Corner adalah ruang bagi komunitas-komunitas selain komunitas film untuk turut serta menterjemahkan film ke dalam berbagai bentuk karya seni lain.

Seluruh program dan kegiatan The 9th Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ini terselenggara berkat bantuan dan dukungan para mitra antara lain Japan Foundation, SAE Institute, Korean Cultural Center, Taman Budaya Yogyakarta, Cinema XXI, Bentara Budaya Yogyakarta, kawan-kawan media, dan pemimpin serta masyarakat desa Giriloyo, Nitiprayan, Sidoakur, dan Banyusumilir, yang mendukung dan membantu terlaksananya festival ini. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY